kantor di rumah

kantor di rumah (Small Office Home Office) adalah Solusi Bisnis untuk kita bersama. Analisa, Strategi, Promosi dan Ikhtiar ber-bisnis mandiri kita bahas bersama di sini.

Jl. Prof DR Lafran Pane No.26, Cimanggis, Depok. | SMS +62-812-8000-7019

Membangun bisnis mandiri skala International

Membangun bisnis mandiri Eksportir Indonesia bersama pebisnis Korea, China dan Malaysia.

http://eksportir-indonesia.com | email:eksportir.indonesia@gmail.com

Bersama kita bisa...!!!

Bersama-sama membangun Bisnis Mandiri untuk mendapatkan Kebebasan Waktu dan Kebebasan Finansial bersama komunitas kantor di rumah.

Komunitas Kantor di Rumah: http://facebook.com/kantor.di.rumah.

Kebebasan Waktu dan Kebebasan Finansial

Dengan memiliki Bisnis Mandiri yang baik dan stabil, kebebasan waktu dan kebebasan finansial dapat kita miliki sehingga kita memiliki waktu yang berkualitas untuk beribadah dan keluarga.

Dari Rumah hingga ke mancanegara

Dengan ide yang cemerlang, kita bisa memiliki bisnis dari kantor di rumah hingga ke Mancanegara...

http://eksportir-indonesia.com

Resonansi Perdagangan (1)


Kombinasi antara ekonomi konsumsi, kelemahan infrastruktur, faktor perijinan dlsb. untuk negeri di ranking 129 dari sisi kemudahan usaha – telah membuat ekonomi kita cenderung menjadi high cost economy – ekonomi berbiaya tinggi. Namun dengan kondisi yang semuanya masih sama, kita sebenarnya bisa membaliknya menjadi low cost economy. Bagaimana caranya ?

Hampir seluruh apa yang kita butuhkan saat ini harus kita beli, mulai dari sandang, pangan, papan sampai industri jasanya. Kita tahu bahwa setiap kita membeli sesuatu dengan uang hasil jerih payah kita, produsen barang atau jasa yang kita beli tersebut pasti sudah memasukkan seluruh ongkos produksi plus profit margin-nya.

Bila ongkos produksinya mahal, misalnya karena kemacetan dimana-mana yang tak kunjung teratasi, kapal-kapal yang harus antri di pelabuhan,faktor perijinan yang serba sulit karena negeri ini berada di ranking 129 dari sisi kemudahan usaha, belum faktor korupsi, pungli  dlsb. maka sudah pasti apapun yang kita beli menjadi mahal.

Bagi kita rakyat kebanyakan yang mayoritas kini konsumen, tidak banyak yang bisa kita perbuat untuk ikut ndandani infrastruktur, mempermudah perijinan dan  menurunkan biaya-biaya lainnya. Walhasil kita akan cenderung terus menjadi korban high cost economy – bila kita tidak berbuat sesuatu yang meaningful, tetapi masih dalam jangkauan kita untuk melakukannya.

Lantas apa yang bisa kita perbuat ?, salah satunya adalah meng-introdusir barter di tengah masyarakat. Tetapi bagaimana barter bisa membalik high cost economy menjadi low cost economy ?. Berikut adalah ilustrasinya tahap demi tahap.

Saya ada perusahaan IT yang berkongsi dengan sejumlah tenaga muda brilliant dari universitas terbaik di negeri ini. Spesialisasi perusahaan ini adalah pada Social Media dan Mobile Solution. Yang unique dari perusahaan ini selain pada kemampuan teknis adalah jalur pemasaran yang tidak biasa, yaitu antara lain melalui jalur barter.

Solusi apapun yang kami kembangkan untuk klien kami, kami bersedia dibayar hanya separuhnya. Yang separuh lagi boleh dibayar dengan barter – apapun produk dari klien kami tersebut. Bila dia bisnisnya hotel, bisa membayar dengan voucher kamar. Bila dia bisnisnya restoran, bisa membayarnya dengan voucher makanan. Dan bahkan bila dia rumah potong hewan – bisa membayarnya dengan daging !.

Di dunia IT, ongkos produksi yang wajar di kisaran 40% - jadi profit margin bisa sampai 60 % masih wajar. Maka bila kita berikan solusi IT kepada rumah potong hewan dan dia hanya perlu membayar tunai 50% dari harga yang wajar di pasaran, insyaallah solusi ini pasti menarik. Sisanya dia bisa membayarnya dengan daging yang bisa kami ambil kapan saja kami butuhkan.

Karena cost kami hanya 40%, maka bayaran tunai yang 50% tersebut lebih dari cukup untuk menutup cost. Lantas diapakan daging yang kami punya ?.

Karena daging yang kami punya sebenarnya merupakan bagian dari profit margin usaha IT kami – maka bisa kami jual bila perlu dengan discount yang gede-gedean ke komunitas barter kami. Misalnya saja kami jual dengan discount 50% - Wow !, di mana bisa dapat daging bagus dengan discount 50 % ? Tidak terbayang bukan ?

Anggap saja seluruh jatah daging kami sebagai imbal beli solusi IT ke rumah potong hewan tersebut  kami jual dengan discount 50%. Maka kami memperoleh dana tambahan 50% (harga jual kami) x 50% (sisa solusi IT yang dibayar dengan daging) atau 25 % dari harga jual IT kami.

Total penerimaan kami adalah 50%+25 % = 75 %. Atau sama dengan kami memberikan discount 25% atas produk kami. Tetapi penerima discountnya adalah bukan rumah potong hewan yang membeli produk kami, penerima discountnya adalah komunitas di barter kami.

Rumah potong hewan mendapatkan solusi ITnya sambil menjual produknya sendiri – karena 50% dari solusi IT dibayar dengan daging.  Perusahaan IT kami menjadi memiliki keunggulan daya saing sendiri karena bersedia dibayar dengan daging !. Daging yang kami peroleh mudah menjualnya ke komunitas barter karena dijual dengan discount 50%-pun kami masih untung. Anggota komunitas barter yang mengambil daging dengan harga discount 50% , masih bisa dengan mudah menjualnya dengan profit margin 50% dari modal mereka ke konsumen akhir.

Dan bahkan konsumen akhir-pun yang membeli daging untuk keperluan sendiri masih mendapatkan harga discount 25% dari harga pasaran. Kok bisa ?. Anggota barter yang membeli daging dari kami membeli dengan harga 50% dari harga pasar. Kemudian ditambahkan oleh dia 50% keuntungam dari modal pembelian dia membuat harga jual dia 50% + 50%x50% = 75 %. Harga 75 % dari harga pasar inilah yang dibayar oleh konsumen akhir dari daging kami tersebut.

Kok bisa ?, padahal rumah potong hewan sendiri tidak mungkin bisa memberikan discount sampai 25 % ?. Betul rumah potong hewan tidak perlu  memberikan potongan berapapun,  tetapi perusahaan IT kamilah yang memberikannya – yaitu dari perolehan daging tersebut yang asalnya dari barter dengan profit margin dari usaha IT kami. Karena barter ini dari profit margin, daging yang kami peroleh dijual berapapun masih tetap untung – harga discount yang kami berikan hanya menurunkan profit margin.

Dengan kata lain, daging di pasar menjadi murah karena ada pihak dalam system barter yang mensubsidinya dengan profit margin mereka. Apakah hal yang sama bisa dilakukan oleh perusahaan lainnya ?. Tentu bisa, dan bahkan discount yang bisa diberikannya-pun tidak tergantung pada profit margin industrinya.

Ambil contoh rumah potong  hewan yang sama membutuhkan seragam untuk seluruh karyawannya. Maka salah satu anggota barter kami yang bisnisnya konveksi memberikan penawaran 75% dibayar tunai, yang 25% dibarter dengan daging.

Maka pembayaran yang 75% untuk konveksi ini sudah cukup untuk mengcover cost produksinya yang rata-rata 70% dan masih menyisakan 5% profit margin. 25% penerimaannya yang berupa daging adalah bagian dari profit margin-nya yang tidak diterimanya dengan tunai.

Bila daging yang dimilikinya ini dijual dengan 50% harga, maka dia masih mendapatkan tambahan pendapatan 50% x 25% atau 12.5%. Total profit margin dia masih 5% plus 12.5 % atau 17.5% dari modal yang 70%,  atau gross margin dia masih 17.5%/70 % = 25% dari modal !.

Pedagang barter yang mengambil daging dari perusahaan konveksi masih membelinya dengan 50% harga pasar dan konsumen akhir masih juga dapat membelinya dengan 75% dari harga pasar.

Bisa Anda lihat sekarang, bahwa meskipun perusahaan IT memiliki tingkat profit margin yang berbeda dengan perusahaan konveksi, keduanya mampu mensubsidi 50% harga daging karena keduanya memperoleh daging tersebut sama-sama dari bagian profit margin penjualan jasa IT atau pakaian seragamnya ke rumah potong hewan.

Perbedaan margin keuntungan antara keduanya– perusahaan IT dan perusahaan konveksi – tidak berdampak pada berapa discount daging yang bisa dia berikan ke masyarakat, tetapi pada porsi berapa banyak setiap penjualan mereka mampu men-generate low cost product bagi masyarakat barter.

Perusahaan IT yang ongkos produksi rata-ratanya hanya 40%, bila dia men-generate low cost product 50% dari setiap salesnya-pun dia masih dapat untung cash 10%. Perusahaan konveksi yang ongkos produksinya sampai 70%, dia hanya mampu men-generate 25% low cost product dari setiap salesnya – bila dia mengamankan 5% profit margin-nya dalam bentuk cash.

Pertanyaannya adalah, bagaimana perusahaan IT dan perusahaan konveksi bisa menjual daging yang diterimanya dari klien mereka rumah potong hewan ?. Itulah indahnya system barter. Setiap anggota selain memasarkan produknya sendiri, otomatis dia akan menjadi pemasar bagi produk orang lain. Karena produknya tidak dijual dengan uang, setiap penjualan memerlukan pasangannya – yang berarti penjualan produk orang lain.

Anggota barter yang usahanya rumah makan padang atau pedagang di pasar, insyaAllah tidak kesulitan untuk meng-absorb daging yang dijual separuh harga oleh perusahaan IT dan perusahaan konveksi tersebut.

Benefit lain dari barter adalah produsen dan konsumen umumnya berada di komunitas yang sama, sehingga kebutuhan untuk transportasi, biaya ekspor-impor dlsb. menjadi terminimalisasi. Karena ongkos-ongkos ini turun, maka profit margin dari masing-masing usaha peserta barter akan meningkat. Ketika profit margin-nya meningkat – lebih banyak lagi para produsen barang dan jasa di system barter tersebut ‘mensubsidi’ ke low cost economy bagi masyarakatnya dengan menggunakan (sebagian) profit margin-nya.

Dari akumulasi low cost product yang di-generate oleh masing-masing produsen barang atau jasa di system barter tersebut-lah low cost economy itu akan terbangun.

Masyarakat barter intinya mendorong masyarakt untuk berproduksi – inilah motor penggerak low cost economy itu. Tetapi bukan hanya produsen bahkan kosumen barter-pun tetap diuntungkan, karena dia mendapatkan subsidi dari profit margin para produsen seperti dalam contoh perhitungan di atas.

Lantas siapa yang dirugikan ?, Tidak ada yang dirugikan – karena low cost economy utamanya bukan dihasilkan dari menekan ongkos di sana sini, tetapi melalui value creation yang dilakukan oleh para produsen. Sebagian dari hasil value creation berupa profit margin inilah yang oleh para produsen dipakai untuk mensubsidi barang-barang yang ditawarkan dalam system barter. Hanya saja masyarakat yang berada di luar system barter tentu tidak mendapatkan benefit dari low cost economy ini.

Barangkali ini salah satu rahasia, mengapa sejak 1400 tahun lalu kita sudah disuruh untuk bersyirkah dalam hal pengelolaan lahan (produksi pangan) , air dan api (energi) oleh junjungan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu. Karena masyarakat yang bersyirkah seperti dalam system barter tersebut adalah masyarakat yang saling memenuhi kebutuhannya, saling memudahkan dan menurunkan beban kesulitan hidupnya masing-masing.

Mudahkah ?, kalau mudah mengapa tidak terjadi di masyarakat selama ini ?. Jawabannya adalah tentu tidak mudah, karena kita sudah terbiasa oleh ekonomi berbiaya tinggi – high cost economy, membayar penuh semua kebutuhan hidup kita dari produk-produk berupa barang dan jasa yang disediakan oleh orang lain – yang tidak ada imbal belinya dengan kita sama sekali.

Semoga umat ini bisa unggul kembali dalam bidang ekonomi, bisa mandiri dan berswasembada dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya.InsyaAllah !.

www.kantor-di-rumah.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas - paket perjalanan wisata - jual benih lele - jual bibit lele - benih lele - bibit lele - lele sangkuriang -

Menjadi Pedagang Muslim


Perdagangan umat ini pernah dibahas dalam Seminar Numismatika Bank Indonesia dengan topik sejarah mata uang Indonesia. Sekitar satu setengah abad setelah VOC merajalela di Nusantara ini, VOC akhirnya memperoleh persetujuan dari Kerajaan Mataram untuk mencetak uangnya sendiri. Uang itu kemudian diberi nama Derham Djawi dan di kedua sisinya bertuliskan huruf Arab. Inilah menariknya, mengapa harus diberi nama Derham dan mengapa harus ditulis dengan huruf Arab?

Pada koin Derham Djawi edisi tahun 1765 misalnya,  satu sisinya bertuliskan Ila Jariyat Jawa Al Kabir sedang sisi lainnya bertuliskan Derham Min Kompani Welandawi.  Kedua teks ini intinya menjelaskan bahwa uang Derham tersebut adalah dari perusahaan Belanda untuk Pulau Jawa Besar.

Karena ini kesepakatan VOC dan Kerajaan Mataram, mengapa uang tersebut tidak berbahasa Belanda dengan huruf latin atau dalam bahasa Jawa dengan huruf Jawa ? Uang adalah bahasa perdagangan pada jamannya. Artinya yang dominan di dunia perdagangan saat itu adalah para pedagang muslim yang berbahasa Arab.

Kekuatan perdagangan umat Islam saat itu juga sejalan dengan sejarah bahwa Agama ini lahir pertama kalinya di lingkungan para pedagang tangguh, yang kemudian terbukti memudahkan mereka berhijrah dan menyebarkan Islam ke seluruh dunia.

Yang anomali adalah umat Islam yang hidup di jaman ini, kita masih mayoritas di negeri ini – tetapi dalam dunia perdagangan kita terperdaya oleh kaum minoritas. Mayoritas kita terbuai dengan comfort zone kita masing-masing, sehingga menimbulkan tragedy of the common bagi umat secara keseluruhan.

Lho apa salahnya perdagangan dikuasai oleh orang lain ? Bila mereka yang bisa mengelola perdagangan itu dengan baik dan memenuhi kebutuhan kita so what ?

Ketika menjadi Muhtasib atau pengawas pasar, Umar bin Khattab Radliallahu ‘Anhu sering teriak-teriak : “…tidak boleh berdagang di pasar orang yang tidak tahu syariat jual beli…”. Karena dengan ketidak tahuannya akan membawanya ke transaksi ribawi dan hal-hal lain yang dilarang tanpa disadarinya.

Dan inilah exactly yang terjadi di perdagangan kita sekarang. Karena yang menguasai perdagangan tidak memahami syariat, riba dan kedhaliman terjadi secara massif di pasar – tanpa banyak yang menyadarinya.

Kalau Anda panen sayur di kebun Anda sendiri misalnya, bisakah Anda begitu saja bawa ke pasar dan berjualan di sana ? Kemungkinan besarnya Anda akan berhadapan dengan calo atau bahkan premanisme sebelum barang Anda bisa masuk pasar.

Atau Anda mungkin sudah merasa beruntung setelah bersusah payah akhirnya sayuran Anda bisa masuk jaringan super atau hyper market raksasa, tanpa Anda sadari ternyata Anda justru memodali para raksasa dengan dagangan Anda yang dibayarnya kapan-kapan oleh mereka.

Konon keuntungan terbesar para raksasa retail bukan hanya dari margin jual beli, tetapi justru dari memutar cash yang diterimanya dari menjual barang dagangan orang lain secara tunai – tetapi kemudian  membayar ke si pemilik barangnya sampai sekian waktu kemudian. Itulah sebabnya mereka berusaha menahan uang Anda selama mungkin kalau bisa.

Salah siapa ini ? ya salah kita semua yang membiarkan ini terjadi. Salah kita yang tidak bertebaran di muka bumi untuk mencari karuniaNya sambil mengingatNya banyak-banyak (QS 62:10). Bila yang bertebaran di muka bumi adalah orang-orang yang tidak mengenalNya apalagi mengingatNya – maka mereka bisa menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan materinya.

Lantas bagaimana sekarang kita bisa kembali meraih kejayaan di perdagangan sebagaimana generasi terbaik dahulu yang berhijrah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ? ya kita harus mau mulai bersungguh-sungguh belajar berdagang.

Banyak diantara kita yang sudah pandai memperdagangkan produk orang lain (tempatnya bekerja) tetapi gamang untuk mulai berdagang dengan produknya sendiri. Jadi sebenarnya sudah sangat banyak diantara kita para pedagang tangguh, hanya belum menyadari potensinya saja.

Maka dari sinilah kita bisa mulai, kemampuan berdagang yang sudah inherent ada dalam diri kita tinggal diasah dan dikeluarkan sedikit-demi sedikit. IsyaAllah tidak akan lama waktunya bagi umat ini untuk melahirkan Abdurrahman bin ‘Auf – Abdurrahman bin ‘Auf jaman ini.

Masih sulit membayangkannya ? Tidak usah terlalu banyak dipikirkan atau dibayangkan, mulailah melakukan tiga hal ini – maka insyaAllah Anda sudah akan bisa  menjadi pedagang tanpa Anda sadari.

Pertama identifikasi produk berupa barang atau jasa apa yang Anda punya passion padanya. Bisa dari lingkungan pekerjaan Anda sekarang, dari hobi Anda, dari kebutuhan Anda, dari masalah yang Anda hadapi – dari mana saja yang bisa menginspirasi Anda.

Kedua maksimalkan nilai atau manfaat dari produk yang sudah Anda temukan tersebut. Misalnya Anda punya passion terhadap kedelai, maka sedapat mungkin ya jangan hanya jual beli kedelai. Tetapi bagaimana menjadikannya tempe, tahu, kecap dan perbgagai produk pengembangannya.

Ketiga promosikan atau perkenalkan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Tidak semua orang akan merespon positif produk Anda, itupun tidak masalah. Bahkan bila hanya ada 1 orang tertarik terhadap produk Anda dari 100 orang yang Anda tawari, maka bersyukurlah – karena Anda telah menemukan niche market Anda.

Tinggal kemudian mencari padanan dari 1 orang yang sudah tertarik tersebut dengan system pencarian yang terstruktur, systematis dan massif (Google, Bing, Yahoo, Baidu, Social Media dll). Di Indonesia saja ada 2.5 juta orang padanan dari satu orang yang Anda temukan tersebut (1/100 dari 250 juta penduduk).

Inilah peluang pedagang di era teknologi, yang sangat-sangat mungkin bagi Anda untuk tetap bisa menggarap secara efektif segmen pasar yang sangat sempit sekalipun. Maka perkembangan teknologi informasi saat ini mestinya bisa menjadi momentum untuk kebangkitan perdagangan umat di jaman ini.

www.kantor-di-rumah.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas - paket perjalanan wisata - jual benih lele - jual bibit lele - benih lele - bibit lele - lele sangkuriang -

Penyakit Pengangguran (NETT)


Majalah ekonomi terkemuka dunia yang berbasis di London – The Economist – mengungkap fakta yang mengejutkan. Bahwa di seluruh dunia ada sekitar 300 juta pemuda usia 15-24 tahun atau mewakili sekitar 25 % pemuda dunia di rentang usia tersebut yang kini dalam status menganggur total. Mereka tidak bekerja, tidak sekolah dan tidak sedang menjalani pelatihan sehingga disebut NEET singkatan dari Not in Employment, Education or Training. Bagaimana kita bisa mencegah atau mengobati generasi pemuda yang berpenyakit NEET ini ?

NEET ini adalah penyakit yang merusak pemuda lebih dari penyakit fisik pada umumnya. Yang dirusak oleh NEET adalah mental, karena bila sampai pemuda mengalami NEET pada usia emas pengembangan dirinya – maka lebih kecil kemungkinannya untuk bisa berkembang setelah melewati usia emas ini. Penyakit ini seperti wabah yang menular dengan sangat cepat ke seluruh dunia – maka seluruh pihak harus aware dan segera berbuat untuk mencegah penularannya dan mengobati mereka yang telah terlanjur terjangkit.

Sebagaimana penyakit pada umumnya, untuk mencegah atau mengobatinya kita perlu tahu apa yang menyebabkan penyakit tersebut. Menurut majalah tersebut di atas ada tiga penyebab penyakit NEET ini, tetapi saya sendiri mengidentifikasi setidaknya ada lima fenomena ekonomi dunia yang menumbuh kembangkan penyakit NEET ini.

Pertama adalah Low Growth atau pertumbuhan ekonomi yang rendah. Sejak krisis financial global 2008, dunia tertatih-tatih berusaha me-recovery diri dari krisis yang belum sepenuhnya pulih hingga kini. Dampaknya hampir di seluruh dunia terjadi pertumbuhan ekonomi yang melamban. Pertumbuhan yang melamban membuat perusahaan-perusahaan dunia menghentikan recruitment baru atau bahkan mengurangi tenaga kerjanya. Walhasil pengangguran di usia pemuda meningkat 30% sejak krisis 2008 sampai sekarang.

Kedua adalah Clogged Labor Markets atau kebuntuan pasar tenaga kerja. Ini umumnya disebabkan oleh kombinasi penyebab pertama dengan paradox peraturan ketenagaan kerja. Pertumbuhan ekonomi yang melamban membuat perusahaan enggan menciptakan lapangan kerja baru, sementara peraturan pemerintah yang terlalu melindungi tenaga kerja – membuat perusahaan sulit mempensiunkan tenaga kerja yang sudah tidak lagi produktif sekalipun. Akibatnya perusahaan-perusahaan memilih jalan aman dengan mengoptimalkan tenaga kerja lama dan tidak menerima tenaga kerja baru.

Ketiga adalah Education Mismatch atau ketidak sesuaian lulusan sekolah/perguruan tinggi dengan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industri. Akibatnya mirip dengan penyebab kedua, yaitu perusahaan memilih tenaga kerja trampil yang siap pakai – yang kadang harus dibajak dari perusahaan lain, ketimbang memilih tenaga kerja baru yang belum siap.

Keempat adalah Disruptive Innovation yaitu inovasi-inovasi yang membuat proses produksi dan proses business berjalan lebih efisien sehingga mengurangi tenaga kerja. Perusahaan-perusahaan di jaman ini cenderung memilih solusi technology dengan tenaga kerja minimal ketimbang solusi-solusi yang padat karya.

Kelima adalah Globalization dimana negara-negara yang bisa memproduksi barang atau jasa secara efisien akan kebanjiran order produksi sementara negara yang tidak efisien akan kebanjiran pengangguran. Penyakit kelima ini antara lain yang akan kita hadapi dalam ASEAN Economic Community (AEC) ketika pasar dan basis produksi tunggal berlaku di ASEAN 2015 nanti.

Setelah kita tahu lima penyebab utama wabah penyakit NEET tersebut di atas, maka kini tinggal mengobatinya satu per satu.

Pertama Low Growth harus bisa diubah menjadi High Growth Economy, seluruh pihak harus fokus pada pertumbuhan ekonomi. Hentikan kepentingan-kepentingan golongan, kelompok atau daerah. Ibarat perusahaan, di negeri ini harus ada pemimpin yang nyinyir yang teriak sana – teriak sini sambil terus meng-orkestrasi-kan pertumbuhan yang harmonis di seluruh sektor dan daerah. Secara nasional harus ada pejabat-pejabat yang accountable yang di antara KPI-nya (Key Performace Indicator) adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia secara menyeluruh.

Di daerah-daerah KPI para gubernur, bupati dan walikota harus juga menyangkut pertumbuhan ekonomi di daerahnya masing-masing - mereka harus menjadi pedal gas untuk pertumbuhan dan bukan pedal rem yang mengerem pertumbuhan dengan berbagai peraturan yang mempersulit ekonomi tumbuh di daerahnya.

Kedua Clogged Labor Market atau kebuntuan pasar tenaga kerja harus dicarikan solusi yang kreatif dan inovatif – yaitu kombinasi solusi dari sisi peraturan ketenaga kerjaan dan dorongan atau insentif agar pekerja-pekerja yang potensi menjadi entrepreneur difasilitasi oleh perusahaan maupun pemerintah. Ini akan menjadi solusi ganda karena posisi yang ditinggalkan oleh mantan tenaga kerja yang menjadi entrepreneur akan dapat diisi oleh tenaga kerja yang lebih muda, pada saat yang bersamaan entrepreneur tersebut dapat menciptakan lapangan tenaga kerja baru bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Ketiga Education Mismatch dapat diatasi bila perguruan-perguruan tinggi dan sekolah-sekolah lebih banyak mendengar kebutuhan industri dan kebutuhan pasar tenaga kerja. Ini masalah klasik yang tidak kunjung selesai, padahal apa sulitnya bagi para peneliti di perguruan tinggi juga sekali-kali meneliti apa sih yang dibutuhkan industri atau pasar itu ?, dari sini mereka harus menyesuaikan kurikulumnya agar para lulusannya lebih siap diserap oleh pasar tenaga kerja. Di Departemen Pendidikan-pun harus ada media untuk menilai kinerja perguruan tinggi – berdasarkan rasio keterserapan lulusannya di pasar tenaga kerja.

Keempat Disruptive Innovation adalah seperti pedang bermata dua, satu sisi dibutuhkan dan satu sisi lainnya membahayakan korbannya. Maka kelahiran inovasi-inovasi baru harus diantisipasi dampaknya – agar tidak ada yang menjadi korban, kalau toh terpaksa ada yang menjadi korban – maka harus dicarikan solusinya untuk hal lain yang juga produktif.

Kelima Globalization harus dijadikan peluang bukan ancaman, artinya kita harus bisa membangun kompetensi yang unggul di pasar global – lebih unggul dari negara-negara pesaing kita. Kita harus pandai memilih bidang-bidang apa yang kita lebih berpeluang unggul, kita harus fokus membangun dan menajamkan keunggulan ketimbang sibuk mengatasi kelemahan. Mengapa demikian ?

Kalau kita sibuk memperbaiki kelemahan, paling kita hanya akan menjadi rata-rata saja karena kelemahan tertutup sementara kunggulan kita tidak terbangun. Bila kita fokus pada keunggulan, maka kita akan unggul di suatu sektor sementara masih ada kelemahan di sektor lain – ini tidak maslah karena di era pasar global yang saling melengkapi kini kita bisa bermain niche dengan satu atau dua keunggulan yang sungguh-sungguh unggul – maka itupun cukup.

Ambil contoh dalam menghadapi pasar tunggal ASEAN – AEC 2015, saya tidak menganjurkan negara kita mengikuti langkah yang ditempuh Thailand menutupi kelemahannya dengan memaksakan rakyatnya belajar bahasa Inggris. Kalau ini kita lakukan,  akan sangat melelahkan, membuang resources yang sangat besar baik dari sisi dana maupun waktu bagi tenaga kerja - sedangkan hasilnya hanya akan menjadikan kita rata-rata saja. Kalau orang Indonesia semua berhabasa Inggris-pun, kita hanya akan sama dengan Singapore, Malaysia dan Philippine  yang rakyatnya sudah lebih dahulu terbiasa berbahasa Inggris.

Bayangkan kalau effort yang sama kita pakai untuk memperbaiki fokus petani kita pada buah atau tanaman yang kita unggulkan, memperbaiki tata guna lahan kita sehingga tidak ada lagi lahan di negeri ini yang ditelantarkan. Maka betapa banyak tenaga muda negeri ini yang akan terserap untuk intensifikasi penggarapan lahan-lahan pertanian kita tersebut. Bisa dibayangkan pula betapa banyak produksi hasil bumi yang akan bisa kita hasilkan. Maka keunggulan dalam menyerap tenaga kerja sekaligus memproduksi hasil bumi ini – akan menjadi keunggulan unique negeri ini yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain di ASEAN atau bahkan di dunia.

Intinya kita punya sumber daya internal untuk bisa mencegah mewabahnya penyakit NEET itu di negeri ini, meskipun tentu saja ini tidak akan mudah. Setidaknya kita harus mulai menyadarinya bahwa ada penyakit yang mengancam generasi muda kita – kemudian dengan kerja keras, kerja cerdas dan mengandalkan petunjukNya semata – maka insyaAllah kita akan bisa menjadi bangsa yang unggul, dimana pemudanya adalah asset dan bukan liability.

Bagi para pemuda, agar diri Anda sungguh-sungguh menjadi Asset bagi umat dan bagi keluarga Anda, hindarkan diri Anda semaksimal mungkin dari penyakit NEET ini. Bagaimana caranya ?, bekerjalah dengan apa saja yang Anda bisa – sejauh tidak melanggar hukum negara apalagi hukum agama. Jangan biarkan ijazah Anda justru membelenggu tangan Anda untuk mulai bekerja, umat dan bangsa ini menunggu karya Anda !.

www.kantor-di-rumah.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas - paket perjalanan wisata - jual benih lele - jual bibit lele - benih lele - bibit lele - lele sangkuriang -

Sebab Sebab Turunnya Rezeki


Akhir-akhir ini banyak orang yang mengeluhkan masalah penghasilan atau rizki, entah karena merasa kurang banyak atau karena kurang berkah. Begitu pula berbagai problem kehidupan, mengatur pengeluaran dan kebutuhan serta bermacam-macam tuntutannya.

Sehingga masalah penghasilan ini menjadi sesuatu yang menyibukkan, bahkan membuat bingung dan stress sebagian orang. Maka tak jarang di antara mereka ada yang mengambil jalan pintas dengan menempuh segala cara yang penting keinginan tercapai. Akibatnya bermunculanlah koruptor, pencuri, pencopet, perampok, pelaku suap dan sogok, penipuan bahkan pembunuhan, pemutusan silaturrahim dan meninggal kan ibadah kepada Allah untuk mendapatkan uang atau alasan kebutuhan hidup.

Mereka lupa bahwa Allah telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya sebab-sebab yang dapat mendatangkan rizki dengan penjelasan yang amat gamblang. Dia menjanjikan keluasan rizki kepada siapa saja yang menempuhnya serta menggunakan cara-cara itu, Allah juga memberikan jaminan bahwa mereka pasti akan sukses serta mendapatkan rizki dengan tanpa disangka-sangka.

Diantara sebab-sebab yang melapangkan rizki adalah sebagai berikut:

- Takwa Kepada Allah

Takwa merupakan salah satu sebab yang dapat mendatangkan rizki dan menjadikannya terus bertambah. Allah Subhannahu wa Ta”ala berfirman, artinya,
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)

Setiap orang yang bertakwa, menetapi segala yang diridhai Allah dalam segala kondisi maka Allah akan memberikan keteguhan di dunia dan di akhirat. Dan salah satu dari sekian banyak pahala yang dia peroleh adalah Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dalam setiap permasalahan dan problematika hidup, dan Allah akan memberikan kepadanya rizki secara tidak terduga.

Imam Ibnu Katsir berkata tentang firman Allah di atas, “Yaitu barang siapa yang bertakwa kepada Allah dalam segala yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya.”

Allah swt juga berfirman, artinya,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. 7:96)

- Istighfar dan Taubat

Termasuk sebab yang mendatang kan rizki adalah istighfar dan taubat, sebagaimana firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Nuh Alaihissalam ,
“Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. 71:10-12)

Al-Qurthubi mengatakan, “Di dalam ayat ini, dan juga dalam surat Hud (ayat 52,red) terdapat petunjuk bahwa istighfar merupakan penyebab turunnya rizki dan hujan.”

Ada seseorang yang mengadukan kekeringan kepada al-Hasan al-Bashri, maka beliau berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”, lalu ada orang lain yang mengadukan kefakirannya, dan beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Ada lagi yang mengatakan, “Mohonlah kepada Allah agar memberikan kepadaku anak!” Maka beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian ada yang mengeluhkan kebunnya yang kering kerontang, beliau pun juga menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah.”

Maka orang-orang pun bertanya, “Banyak orang berdatangan mengadukan berbagai persoalan, namun anda memerintahkan mereka semua agar beristighfar.” Beliau lalu menjawab, “Aku mengatakan itu bukan dari diriku, sesungguhnya Allah swt telah berfirman di dalam surat Nuh,(seperti tersebut diatas, red)

Istighfar yang dimaksudkan adalah istighfar dengan hati dan lisan lalu berhenti dari segala dosa, karena orang yang beristighfar dengan lisannnya saja sementara dosa-dosa masih terus dia kerjakan dan hati masih senantiasa menyukainya maka ini merupakan istighfar yang dusta. Istighfar yang demikian tidak memberikan faidah dan manfaat sebagaimana yang diharapkan.

- Tawakkal Kepada Allah

Allah swt berfirman, artinya,
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. 65:3)

Nabi saw telah bersabda, artinya,

“Seandainya kalian mau bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya maka pasti Allah akan memberikan rizki kepadamu sebagaimana burung yang diberi rizki, pagi-pagi dia dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani)

Tawakkal kepada Allah merupakan bentuk memperlihatkan kelemahan diri dan sikap bersandar kepada-Nya saja, lalu mengetahui dengan yakin bahwa hanya Allah yang memberikan pengaruh di dalam kehidupan. Segala yang ada di alam berupa makhluk, rizki, pemberian, madharat dan manfaat, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat, kematian dan kehidupan dan selainnya adalah dari Allah semata.

Maka hakikat tawakkal adalah sebagaimana yang di sampaikan oleh al-Imam Ibnu Rajab, yaitu menyandarkan hati dengan sebenarnya kepada Allah Azza wa Jalla di dalam mencari kebaikan (mashlahat) dan menghindari madharat (bahaya) dalam seluruh urusan dunia dan akhirat, menyerahkan seluruh urusan hanya kepada Allah serta merealisasikan keyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi dan menahan, tidak ada yang mendatangkan madharat dan manfaat selain Dia.

- Silaturrahim
Ada banyak hadits yang menjelaskan bahwa silaturrahim merupakan salah satu sebab terbukanya pintu rizki, di antaranya adalah sebagai berikut:

-Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, artinya,
“Dari Abu Hurairah ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menyambung silaturrahim.” (HR Al Bukhari)

-Sabda Nabi saw, artinya,
“Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Ketahuilah orang yang ada hubungan nasab denganmu yang engkau harus menyambung hubungan kekerabatan dengannya. Karena sesungguhnya silaturrahim menumbuhkan kecintaan dalam keluarga, memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR. Ahmad dishahihkan al-Albani)

Yang dimaksudkan dengan kerabat (arham) adalah siapa saja yang ada hubungan nasab antara kita dengan mereka, baik itu ada hubungan waris atau tidak, mahram atau bukan mahram.

- Infaq fi Sabilillah

Allah swt berfirman, artinya,
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. 34:39)

Ibnu Katsir berkata, “Yaitu apapun yang kau infakkan di dalam hal yang diperintahkan kepadamu atau yang diperbolehkan, maka Dia (Allah) akan memberikan ganti kepadamu di dunia dan memberikan pahala dan balasan di akhirat kelak.”

Juga firman Allah yang lain,artinya,

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. 2:267-268)

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah saw bersabda, Allah swt berfirman, “Wahai Anak Adam, berinfaklah maka Aku akan berinfak kepadamu.” (HR Muslim)

- Menyambung Haji dengan Umrah

Berdasarkan pada hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari Ibnu Mas”ud Radhiallaahu anhu dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya,

“Ikutilah haji dengan umrah karena sesungguhnya keduanya akan menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana pande besi menghilangkan karat dari besi, emas atau perak, dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. at-Tirmidzi dan an- Nasai, dishahihkan al-Albani)

Maksudnya adalah, jika kita berhaji maka ikuti haji tersebut dengan umrah, dan jika kita melakukan umrah maka ikuti atau sambung umrah tersebut dengan melakukan ibadah haji.

- Berbuat Baik kepada Orang Lemah

Nabi saw telah menjelaskan bahwa Allah akan memberikan rizki dan pertolongan kepada hamba-Nya dengan sebab ihsan (berbuat baik) kepada orang-orang lemah, beliau bersabda, artinya,

“Tidaklah kalian semua diberi pertolongan dan diberikan rizki melainkan karena orang-orang lemah diantara kalian.” (HR. al-Bukhari)

Dhu”afa” (orang-orang lemah) klasifikasinya bermacam-macam, ada fuqara, yatim, miskin, orang sakit, orang asing, wanita yang terlantar, hamba sahaya dan lain sebagainya.

- Serius di dalam Beribadah

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Allah Subhannahu wa Ta”ala berfirman, artinya,

“Wahai Anak Adam Bersungguh-sungguhlah engkau beribadah kepada Ku, maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan dan Aku menanggung kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan itu maka Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan Aku tidak menanggung kefakiranmu.”

Tekun beribadah bukan berarti siang malam duduk di dalam masjid serta tidak bekerja, namun yang dimaksudkan adalah menghadirkan hati dan raga dalam beribadah, tunduk dan khusyu” hanya kepada Allah, merasa sedang menghadap Pencipta dan Penguasanya, yakin sepenuhnya bahwa dirinya sedang bermunajat, mengadu kepada Dzat Yang menguasai Langit dan Bumi.

Dan masih banyak lagi pintu-pintu rizki yang lain, seperti hijrah, jihad, bersyukur, menikah, bersandar kepada Allah, meninggalkan kemaksiatan, istiqamah serta melakukan ketaatan, yang tidak dapat di sampaikan secara lebih rinci dalam lembar yang terbatas ini. Mudah-mudahan Allah memberi kan taufik dan bimbingan kepada kita semua. Amin.

Al-Sofwah (Sumber: Kutaib “Al Asbab al Jalibah lir Rizqi”, al-qism al-ilmi Darul Wathan).

www.kantor-di-rumah.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas - paket perjalanan wisata - jual benih lele - jual bibit lele - benih lele - bibit lele - lele sangkuriang -

Mulailah Bisnis Anda dari Ide yang Sederhana


Ide boleh besar, visi  harus bisa melihat jauh kedepan, tetapi untuk menjadi realita  - hampir semua usaha harus dimulai dari yang kecil yang berada pada jangkauan kita. Berani memulai dari yang kecil inilah awal dari keberhasilan dan perubahan besar. Mark Zuckerberg-pun yang melahirkan fenomena baru dalam jaringan pertemanan dunia, dia memulai dari lingkungan kampusnya di  Harvard. Memulai dari yang kecil juga memudahkan kita untuk bisa melalui death valley – lembah kematian – yang mayoritas (calon) entrepreneur harus melaluinya.

Kalau kita amati bisnis-bisnis besar yang ada di sekitar kita selalu bisa dijelaskan dengan cara yang sederhana, dan bisa dimulai dari yang kecil. Ambil contoh misalnya fenomena air mineral dalam gelas yang kini meraksasa, seandainya konglomerat pemilik usaha tersebut ditanya cucunya yang masih SD “Apa pekerjaan kakek?”  jawabannya kemungkinannya begini : “kakek mengambil air dari gunung, memasukkannya ke dalam gelas-gelas plastik lalu menjualnya”.

Dengan penjelasan yang sederhana tersebut, anak kecil-pun mudah untuk memahami bisnis kita. Kalau bisnis kita mudah dipahami dan sesuai dengan kebutuhan pasar, maka disitulah peluangnya.

Catherine Kupa dalam bukunya “Breakthrough Branding” (SelfBrand LLC, London 2012) menulis kurang lebih begini : “Bila ide business Anda tidak cukup untuk Anda tuliskan di belakang kartu nama Anda, atau bila ide bisnis Anda tidak bisa dijelaskan ke  anak usia 10 tahun – maka kemungkinannya ide Anda tersebut adalah a big bad idea, ide besar yang buruk…”.

Memulai dari yang kecil yang dalam jangkauan Anda untuk memulainya sendiri juga akan membuat perjalanan usaha Anda enjoyable, less stress karena tidak dikejar-kejar oleh investor Anda. Death valley-pun akan terasa nyaman karena disanalah Anda bisa bereksperimen sepuasnya  dan cukup aman untuk mengambil resiko.

Bila dari awal usaha Anda sudah melibatkan investor untuk memulainya, kemungkinan Anda juga terpaksa harus berkompromi. Bukan hanya terkait hasil materi dari usaha Anda, tetapi juga terkait nilai-nilai yang Anda perjuangkan. Investor yang punya modal hampir pasti memiliki nilai-nilainya sendiri, demikian pula Anda. Kerjasama hanya akan terjadi bila nilai-nilai tersebut dapat dipersatukan, artinya harus ada kompromi.

Hal ini bisa baik dan bisa juga tidak. Menjadi baik ketika nilai-nilai yang dibawa investor adalah nilai-nilai kebaikan sehingga mampu memberi nilai tambah terhadap ide bisnis Anda. Menjadi tidak baik manakala investor hanya peduli dengan hasil dan tidak menganggap penting nilai-nilai kebaikan, maka Anda hanya akan ditargetkan sebagai mesin uang bagi investor ini – dan bila mesin uang ini tidak berjalan semestinya – di sanalah masalah besar menunggu.

Mulai yang kecil yang dalam jangkauan-pun tidak akan membatasi peluang ide usaha Anda untuk menjadi besar. Langkah kecil dan sederhana bisa menjadi usaha yang besar atau bahkan sangat besar seperti fenomena air mineral dan facebook di atas bila langkah kecil dan sederhana ini bisa mengubah atau menciptakan trend atau fenomena baru di masyarakat. Siapa tahu dari yang kecil ini bisa dilakukan perubahan yang besar…., InsyaAllah.

www.kantor-di-rumah.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas - paket perjalanan wisata - jual benih lele - jual bibit lele - benih lele - bibit lele - lele sangkuriang -

Jarum-Jarum Keberhasilan 


Seorang motivator kondang yang memiliki kantor di 32 negara Brian Tracy memiliki ungkapan menarik untuk membedakan orang yang berhasil dan orang yang gagal. Menurutnya: “Perbedaan orang yang berhasil dan orang yang tidak berhasil adalah yang berhasil telah melalui lebih banyak kegagalan ketimbang yang tidak berhasil”. Dari salah satu ungkapannya yang pendek ini, saya tidak heran dia begitu terkenal – karena ini menggambarkan kemampuan dia untuk mengajak orang lain melihat dari sisi yang berbeda dari setiap kegagalan.

Saya sendiri menganggap setiap kegagalan adalah jarum-jarum keberhasilan yang tersembunyi, kita hanya tahu bahwa jarum keberhasilan itu ada setelah kita terus berusaha mencarinya dibalik ‘tumpukan jerami’ kegagalan. Ini artinya adalah memang lebih banyak kegagalan dari keberhasilan, tetapi keberhasilan itu insyaallah selalu ada bila kita tidak berhenti mencarinya.

Untuk mudahnya memahami konsep ini saya beri ilustrasi sederhana dari pengalaman kami berternak kambing dengan para peserta Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin di Jonggol.

Di awal kami memulai usaha ini, semua hitungan di atas kertas perfect baik dari sisi visi, misi, financial projections dlsb.dlsb. Namun begitu ide tersebut diimplemantasikan, ternyata segudang masalah itu silih berganti bermunculan.

Untuk membuat kandang saja kami mengalami tiga kali kegagalan. Pertama salah design  salah bahan, kedua design betul – bahan masih salah sehingga cepat rusak, ketiga design betul – bahan betul – standard workmanship-nya kurang, baru keempat kita bisa membuat kandang kambing yang baik yang bahkan diminati oleh banyak tamu yang datang dari negeri tetangga.

Setelah masalah kandang terselesaikan-pun masih segudang masalah lain yang terus berdatangan mulai dari efisiensi pakan, kesehatan, tingkat kematian, tenaga kerja dlsb. Walhasil hingga kinipun setelah berjalan tiga tahun kami belum bisa menyatakan project kambing ini berhasil. Kami katakan bahwa keberhasian dari project ini masih tersembunyi.

Bagi teman-teman yang ikut project ini dari awal dan belum bisa menemukan ‘keberhasilan tersembunyi’ banyak yang sudah putus di tengah jalan dan tidak lagi terlibat di project perkambingan ini. Tetapi Alhamdulillah project ini tetap exist dan sekarang menjadi ‘monumen keberhasilan tersembunyi’ dari big picture yang ingin kami gambar di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin.

Alhamdulillah pula satu demi satu jarum-jarum ‘keberhasilan tersembunyi’ tersebut mulai berhasil kami temukan di antara ‘tumpukan jerami’ kegagalan. Di antaranya adalah project tanaman alfaafa yang antara lain juga diilhami oleh kegagalan kita di pakan ternak.

Ketika kami telusuri lebih lanjut, ternyata alfaafa ini juga menghadirkan berbagai peluang lain yang sekarang kami kelompokkan dalam lima target pengembangan yaitu untuk pakan, pangan, pupuk, energy dan land recovery. Peluang-peluang ini kemungkinannya tidak akan pernah terpikirkan seandainya dari awal kami tidak mengalami kesulitan dalam memberikan pakan yang cukup bagi kambing-kambing kami.

Keberhasilan tersembunyai lainnya yang bahkan dampaknya bisa sangat luas adalah system pembiayaan yang kami gunakan di project kambing tersebut. Ada sekitar 20 orang pembaca situs ini dan peserta pesantren wirausaha yang ikut mendanai proyek kambing ini dengan konsep Mudharrabah Muqayyadah.

Hingga kini sudah dua kali kami berhasil memberikan bagi hasil yaitu tahun lalu di sekitar 20 % dari modal dan tahun ini di sekitar 16 % dari modal. Masih kecil memang dibandingkan dengan target semula di atas kertas, tetapi sudah jauh di atas hasil tabungan, deposito dan sejenisnya.

Dari sinilah sebenarnya terbukti – bukan hanya rencana di atas kertas, bahwa konsep Mudharrabah Muqayyadah itu akan bisa lebih baik dari tabungan atau deposito. Pertama investor tahu betul untuk apa uang mereka digunakan, kedua dengan project yang ‘keberhasilannya masih tersembunyi’ saja hasilnya sudah jauh lebih baik dari tabungan dan deposito.

Dari pengalaman menerapkan konsep ini langsung di lapangan, kini kami bersama dengan beberapa bank syariah sudah sepakat untuk mengimplementasikan konsep ini dalam skala yang lebih luas. Bila Anda ada usaha atau project yang memerlukan pembiayaan – bisa jadi Mudharrabah Muqayyadah ini solusinya, insyaallah kami siap membantu meng-arrange-nya, langsung dengan contoh apa yang sudah dan akan kami lakukan.

Dahulu ketika memulai project kambing, kami tidak pernah menduga bahwa byproduct dari project tersebut akan sampai menghasilkan produk lain yang sangat jauh dari kambing yaitu produk pembiayaan – berupa pengalaman langsung yang siap ditularkan untuk menyelesaikan masalah-masalah permodalan yang dialami oleh (calon) entrepreneur di berbagai bidang.

Tumpukan jerami kegagalan itu akan terus ada, tetapi demikian pula jarum-jarum keberhasilan tersembunyi-nya. Tugas kita hanyalah terus mencarinya tanpa lelah, dan inilah salah satu aplikasi yang indah dari firmanNya :

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS 94 : 5-8)

Ditulis oleh Ustadz Muhaimin Iqbal

www.kantor-di-rumah.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:
coconut fiber indonesia - civet coffee beans luwak indonesia - rumah baru dekat tol di jatiasih - eksportir indonesia - solusi properti - rumah dinar - manufaktur indonesia - agribisnis indonesia - white copra indonesia - coconut coir pellets - jual panel beton murah siap pakai - jasa pasang panel beton - jual komponen nepel, mur, baut, spare parts ac, kuningan - komponen, nepel, mur, baut, ac, kuningan - industri manufaktur pengecoran kuningan - brass foundry casting manufacturer - brass billets, bullets, neple, nut, bolt, fitting, parts - tanah di kawasan strategis - rumah baru eksklusif dekat tol - rumah murah dekat tol - jual tanah di sudirman - jual tanah di kuningan - jual tanah dekat menteng - paket tour perjalanan wisata - apakah dinar emas - tanya jawab dinar - jual dinar - beli dinar - dinar emas - paket perjalanan wisata - jual benih lele - jual bibit lele - benih lele - bibit lele - lele sangkuriang -