kantor di rumah

kantor di rumah (Small Office Home Office) adalah Solusi Bisnis untuk kita bersama. Analisa, Strategi, Promosi dan Ikhtiar ber-bisnis mandiri kita bahas bersama di sini.

Jl. Prof DR Lafran Pane No.26, Cimanggis, Depok. | SMS +62-812-8000-7019

Membangun bisnis mandiri skala International

Membangun bisnis mandiri Eksportir Indonesia bersama pebisnis Korea, China dan Malaysia.

http://eksportir-indonesia.com | email:eksportir.indonesia@gmail.com

Bersama kita bisa...!!!

Bersama-sama membangun Bisnis Mandiri untuk mendapatkan Kebebasan Waktu dan Kebebasan Finansial bersama komunitas kantor di rumah.

Komunitas Kantor di Rumah: http://facebook.com/kantor.di.rumah.

Kebebasan Waktu dan Kebebasan Finansial

Dengan memiliki Bisnis Mandiri yang baik dan stabil, kebebasan waktu dan kebebasan finansial dapat kita miliki sehingga kita memiliki waktu yang berkualitas untuk beribadah dan keluarga.

Dari Rumah hingga ke mancanegara

Dengan ide yang cemerlang, kita bisa memiliki bisnis dari kantor di rumah hingga ke Mancanegara...

http://eksportir-indonesia.com

Pedagang di Jalan Malioboro


Bila Selat Malaka itu diibaratkan jalan Malioboro – Jogja, maka Singapura adalah sebuah toko dekat Hotel Garuda. Sepanjang jalan Malioboro adalah milik Indonesia di bagian kiri dan Malaysia di sebelah kanan. Melalui ‘Jalan Malioboro’ yang bernama Selat Malaka ini, 50% armada kapal dunia lewat. Sekitar 50,000 kapal ‘pedagang besar’ lewat selat ini setiap tahun.

Tetapi mengapa pemilik ‘satu toko di pojok Malioboro’ tersebut berhasil memakmurkan warganya dengan tingkat GDP per capita sekitar US$ 46,000 per tahun, pemilik sisi kanan ‘Malioboro’ memiliki GDP per capita US$ 9,600 per tahun – sedangkan pemilik sisi jalan yang paling panjang di bagian kiri ‘Malioboro’ baru memiliki GDP per capita di kisaran US$ 3,250 per tahun ?

Jawabannya kemungkinan besar ya karena kita belum pandai berdagang. Kita memiliki lokasi yang paling strategis di dunia perdagangan – dilalui 50 % kapal dunia – tetapi kita belum berhasil memanfaatkannya. Kita memiliki hampir seluruh bahan baku untuk komoditi perdagangan dunia, mulai dari hasil hutan, hasil tambang, energy, hasil laut, hasil bumi – tetapi kendali perdagangannya nampaknya belum ada di tangan kita.

Lebih dari itu, bila di Selat Malaka kita harus berbagi dengan dua tetangga – kita masih punya dua selat lain yang juga sangat strategis untuk perdagangan dunia. Bila sesuatu terjadi di Selat Malaka, orang akan berpaling ke dua selat ini – yaitu Selat Sunda dan Selat Lombok. Perhatikan ilustrasi dibawah untuk memahami betapa strategisnya tiga selat yang kita miliki itu.


Di dunia perdagangan dikenal 3 hal terpenting yaitu no 1 Lokasi, no 2 Lokasi  dan no 3 Lokasi. Hal-hal lain menyusul di no 4 dan seterusnya. Keunggulan lokasi itu kita miliki, tetapi kita belum unggul dalam perdagangan – apa yang salah ?

Kita belum mengolah lokasi itu menjadi tempat yang layak disinggahi. Berapa puluh pemerintah daerah yang memiliki lokasi paling strategis – wilayahnya bersinggungan dengan salah satu dari tiga selat tersebut – tetapi apakah mereka membuat ‘toko’ berupa pelabuhan yang layak disinggahi kapal-kapal dagang internasional ?, yang ‘pelayannya’ ramah dengan segala perijinan yang mudah dan ‘tokonya’ komplet – a lot to offer ?

Jadi kita memiliki tiga ‘Jalan Malioboro’ tetapi kita belum pandai berdagang, tidak heran aktivitas ‘orang berlalu lalang’ berupa transaksi ekonomi belum banyak yang singgah ke toko-toko kita. Sementara itu tetangga kita yang memiliki satu toko di pojok jalan saja, dia mengolahnya dengan segenap kekuatannya sehingga selalu dikunjungi kerumunan banyak orang – orang tidak perlu menyusuri sepanjang ‘Jalan Malioboro’ bila datang ke satu toko saja di pojok jalannya mereka sudah terpenuhi kebutuhannya.

Lantas dari mana kita akan mulai membenahi diri, membangun kembali kemampuan perdagangan ini ?.

Sampai pertengahan abad 18, satu abad lebih setelah belanda menjajah Nusantara – waktu itu Belanda ingin mulai mencetak uang mereka sendiri, tetapi apa yang mereka cetak ? mereka belum berani mencetak uang Gulden negerinya – yang mereka cetak adalah uangnya umat Islam dan namanya pun berbahasa Arab yaitu Derham Min Kompeni Welandawi – Dirham dari Kompeni Belanda.

Ini menunjukkan bahwa kekuatan perdagangan saat itu ada di tangan umat ini, uangnya Dirham dan bahasanya Arab. Bahkan lebih dari seribu tahun sebelum Belanda mencetak Dirham ini  kekuatan perdagangan internasional khalifahan Islam sudah menguasai tiga benua – lengkap dengan system pembayarannya yang canggih – bahkan untuk ukuran jaman ini sekalipun !.

Jadi untuk kembali menguasai perdagangan global, sesungguhnya ini bukan hal baru bagi kita – kita tinggal mencontoh, apa yang dahulu dilakukan umat ini di masa-masa kejayaannya. Kita tidak perlu reinvent the wheel – memulai segala sesuatunya dari awal, kita tinggal meneruskan saja dari titik akhir pencapaian mereka.

Untuk bisa melanjutkan, kita harus tahu dahulu sampai dimana pencapaian mereka dahulu. Untuk bisa tahu sampai dimana pencapaian mereka ini, kita perlu belajar dari sejarah. InsyaAllah akan kita bahas pada sharing belajar bersama membangun kantor di rumah yang akan diadakan kembali pada waktu dekat ini.

Disadur dari tulisan Ustadz Muhaimin Iqbal.

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:

Restorasi Kemakmuran Umat


Membangun kembali kemakmuran umat di atas tanah subur yang saat ini telah dizolimi oleh manusia. Sekaranglah saatnya kita berubah untuk menjadi manusia yang berguna bagi umat, alam dan teknologi.


Dengan nikmat sehat dan nikmat waktu (kesempatan) yang ALLAH SWT berikan kepada kita dengan potensi alam di sekitar kita, saatnya kita membangun http://kantor-di-rumah.com untuk kesejahteraan umat dan mencapai bisnis mancanegara http://eksportir-indonesia.com




Restorasi Kemakmuran Jawa from Noer Rachman Hamidi on Vimeo.


Ada do’a yang dicantumkan di halaman akhir Al-Qur’an yaitu Do’a Khatmil Qu’ran, yang penggalan artinya kurang lebih berbunyi“Ya Allah jadikanlah umur terbaik hamba di penghujungnya, jadikanlah amal terbaik hamba di penutupnya, jadikanlah hari-hari terbaik hamba hari bertemu dengan Engkau di dalamnya”.

Do’a ini mengisyaratkan perlunya kita untuk selalu dalam kondisi memperbaiki diri secara terus menerus sampai akhir hayat kita. Dalam hal apa kita perlu terus memperbaiki diri?, dalam hal mencapai tujuan dari akhir hidup kita.


Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:

Mengapa Kita harus Menanam...? (Nasihat Rasulullah SAW)

Umat ini memiliki sumber Ilmu yang bisa digali tanpa habisnya, yaitu Al-Quran dan Al Hadits. Sebagai agama akhir zaman, sumber Ilmu tersebut juga kita yakini akan selalu valid dan up-to-date sampai kapanpun. Dengan sumber ilmu yang begitu agung dan komprehensive tersebut, tidak seharusnya umat ini menjadi jajahan dunia barat - paling tidak di bidang ekonomi dan pemikiran.

Tantangannya adalah bagaimana mengamalkan ilmu yang kita gali dari sumber-sumber yang agung tersebut; jangan sampai justru umat lain - yang membenci Islam - yang duluan mengamalkan apa yang seharusnya kita amalkan.

Revolusi hijau lebih pantas kita duluan yang mengembangkan dan mengaplikasikannya karena kita punya konsep Muzara'ah yang sudah sangat detil ditulis ilmunya oleh para ulama kita terdahulu. Perintah untuk bercocok tanam secara sungguh-sungguh-pun sudah ada di surat Yusuf 43-48. Lantas yang kurang apa ?, ya amal itu lagi yang kurang.

Kalau kita sungguh-sungguh mengamalkan ajaran kita, maka bukan Amerika yang akan memimpin dunia; tetapi kitalah yang akan memimpin dunia – mungkin bukan pada zaman kita, tetapi janji Allah pasti benarnya. Tinggal kita memilih peran kita, ikut sebagai sebab atau puas hanya sebagai akibat.

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS 3:139).

Amerika masih akan sibuk merumuskan Code Green atau Revolusi Hijau mereka; Untuk kita hal ini sudah tamat dibuat; blue-printnya, aturan mainnya dlsb. sudah sangat jelas ditulis para ulama dengan mengikuti Al-Qur'an dan Al Hadits; kita tinggal mengamalkannya.

"Tidak ada bagi seorang muslim yang menanam tanaman, kemudian ada burung atau manusia, atau binatang ternak memakannya, kecuali baginya sedekah" HR. Bukhari Muslim.

Bayangkan kalau masing-masing kita bisa mengelola pertanian setelah itu mengelola peternakan, dengan kemampuan kita membuat pupuk dan pakan (mengamalkan manfaat dari rerumputan al-falfaa QS An Naba-16) dengan bahan baku dari keduanya (dedaunan dan kotorannya) dan menjadi kebutuhan yang saling silang mengisi untuk keduanya (pertanian dan peternakan), maka kita telah menjadi "petani yang memiliki lahan dengan ekosistem yang sempurna"  – berapa banyak burung, hewan dan manusia bisa mengambil manfaatnya ? Selain kita sendiri juga mendapat manfaat tentunya.

Di negara-negara maju justru para petani adalah umat yang paling makmur kehidupannya dan mampu memberikan manfaat untuk diri, keluarga dan masyarakat. Berbeda sekali dengan di negara kita...!! Penyebab perbedaan tersebut adalah bagaimana kita mau belajar, mengamalkan (ikhtiar) dan mengajarkan (dakwah) ilmu dalam mengelola pupuk, pakan dan air.

Semoga Allah memudahkan kita merealisasikan niat yang sungguh-sungguh ini.
Wallahu A'lam

http://eksportir-indonesia.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:


Pola Pikir (sebagai) para Entrepreneur

Semasa kecil saya minum air segar dari kendi. Semasa remaja saya menulis surat atau menerima surat ditempat saya indekost. Ketika bekerja dan karier mulai menanjak saya mendapatkan fasilitas mobile phone segede batu bata. Dalam dasawarsa terakhir ini, hanya dalam waktu kurang lebih separuh generasi, semua berubah drastis. Saya tidak lagi minum air segar dari kendi, tidak perlu menulis surat dan mengeposkannya, dan tidak perlu membawa mobile phone segede batubata. Pertanyaannya adalah siapa gerangan yang membawa perubahan ini? Merekalah para entrepreneur-entrepreneur sukses pada zamannya.

Dengan mudah kini kita dapat minum air segar yang sehat dari air gelas atau botol yang diproduksi oleh berbagai perusahaan. Awalnya tentu diperlukan satu kepeloporan usaha dibidang ini kemudian yang lain menirunya, menurut saya tidak masalah - baik yang menemukannya dari awal maupun yang menirukan kemudian  menyempurnakannya – merekalah para pengusaha yang berjasa dalam memudahkan kita untuk minum air segar ini.

Demikian pula dalam hal berkomunikasi dengan surat, kita tidak perlu lagi cape-cape menulis surat dan mengeposkannya – kemudian berharap-harap cemas akan datangnya pak pos mengantarkan balasasannya sekian hari yang akan datang. Siapa yang berjasa ?, adalah para ilmuwan yang menemukan internet dan email kemudian tentu saja para entrepreneur yang make it available nyaris bagi siapa saja yang memerlukannya di muka bumi.

Di tahun 95-an perlu waktu untuk antri dua tahun sebelum rumah saya mendapatkan saluran telepon fix line, kantor yang tidak sabar kemudian membelikan saya mobile phone yang segede batubata. Semua itu kelihatan konyol sekarang , karena semuanya telah jauh berubah. Nomor telepon bisa diperoleh dalam bilangan menit dari kios-kios di pinggir jalan, harganya terjangkau oleh seluruh kalangan masyarakat – dan begitu ringannya sehingga mudah masuk saku-saku kita. Siapa yang membawakan perubahan-perubahan ini ?, lagi-lagi adalah para entrepreneur-lah yang melakukannya.

Air dalam kemasan tidak lahir dari keputusan atau kebijakan pemerintah, demikian pula tersedianya e-mail dan mobile phone  bagi seluruh kalangan masyarakat. Karena pemerintah atau negara bukan pelaku dalam memberikan kemudahan hidup ini, lantas apa yang seharusnya dilakukan ?. Pemerintah harus memfasilitasinya agar perubahan-perubahan kearah kebaikan yang terjadi dan tidak menghambatnya dengan birokrasi peraturan yang berbelit dan biaya-biaya yang tidak jelas. Bahkan seharusnya pemerintah membantu dengan segala fasilitas, karena dampak perekonomian yang akan terjadi adalah kemakmuran umat.

Lantas dimana peluang Anda untuk bisa ikut mengubah dunia kearah yang lebih baik ?, bila Anda bukan tokoh partai politik yang tulus ikhlas ingin memperjuangkan kebaikan bagi umat dan bukan pula para birokrat yang menjadi pelayan (yang digaji oleh uang rakyat) untuk membidangi segala kemudahan dalam perijinan usaha – maka jadilah entrepreneur yang menghadirkan perubahan.

Bidang kehidupan apalagi yang perlu perubahan ?. Sangat banyak yang masih bisa terus dirubah kearah yang lebih baik, dan ini membutuhkan Anda para (calon) entrepreneur. Sekedar ide, bila Anda bisa melakukan hal-hal dibawah ini misalnya – maka insyaAllah ini akan menjadi pemberat amal kebaikan Anda selama hidup di dunia.
  • Dapatkah Anda memproduksi daging (bahan pangan hewani) yang murah dan terjangkau bagi seluruh umat ?.
  • Dapatkah Anda memproduksi secara massal tepung-tepung pengganti terigu agar kita tidak lagi mengimpor bahan pangan yang tidak tumbuh di negeri ini ?
  • Dapatkah Anda memproduksi susu segar yang massal dan murah agar kita tidak menjadi pengimpor susu bubuk terbesar dunia ?.
  • Dapatkah Anda menghasilkan system penangkapan ikan yang murah dan efektif sehingga hasil laut kita tidak dijarah orang lain ?.
  • Dapatkah Anda mengolah serat dari hasil tanaman di sekitar kita sehingga kita tidak perlu mengimpor 99.5 % kapas yang dibutuhkan negeri ini ?.
  • Dapatkah Anda menyediakan “kantor di rumah” - home office infrastructure package  (system untuk bekerja dari rumah) yang murah sehingga orang tidak perlu membuang waktu berjam-jam hanya untuk pergi –pulang kantor...?
  • Dapakah ?, dapatkah ...?, dapatkah...?.
Di setiap masalah yang ingin Anda atasi, di setiap kesulitan yang ingin Anda mudahkan, disetiap produk yang Anda pandang kurang baik, disetiap layanan yang mengewakan... disanalah peluang Anda, peluang untuk ikut mengubah dunia menjadi lebih baik. InsyaAllah !.

Wallahu A’lam.



Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:

Pelajari Hukum Sebab-Akibat untuk menjadi Pemenang

Bagi negara-negara penghasil produk pangan dunia, Indonesia adalah primadona untuk negara tujuan ekspor mereka.  Betapa tidak, negara dengan penduduk no 4 terbesar di dunia ini – ternyata kurang pandai memenuh kebutuhannya sendiri. Indonesia pernah tercatat sebagai Negara pengimpor beras terbesar di dunia (2003/2004) dengan total impor mencapai 3.5 juta ton atau 18.6 % dari total impor beras dunia. Oleh Index Mundi, tahun ini Indonesia juga ditargetkan menjadi negara tujuan ekspor no 1 di dunia untuk susu bubuk – yang oleh mereka diperkirakan kita akan mengimpor 230,000 ton. Posisi ‘JUARA’ impor ini di duduki Indonesia di banyak kategori lainnya, meskipun tidak di nomor 1.

Gandum misalnya, negara yang penduduknya semula tidak makan gandum  ini kini menjadi pengimpor gandum no 4 di dunia dengan impor sekitar 4.1 juta tahun pertahun. Untuk makanan tradisional dari kedelai-pun Indonesia menjadi pengimpor no 3 terbesar di dunia dengan impor sekitar 2.6 juta kedelai setahun. Untuk kebutuhan pokok lainnya yaitu sandang, Indonesia juga merupakan pengimpor kapas no 4 terbesar di dunia.

Bukan hanya pada kebutuhan-kebutuhan  pokok tersebut Indonesia menjadi target empuk bagi para pemasar dunia, tetapi juga untuk kebutuhan lain yang semula tidak mutlak perlu seperti telepon seluler. Saat ini diperkirakan rata-rata 3 dari empat penduduk Indonesia memiliki telepon seluler – yang berarti sekitar  180-an juta pengguna. Pada posisi ini, Indonesia menduduki rangking ke 6 pengguna telepon seluler dunia setelah China, India, USA, Russia dan Brasil. Tidak ada salahnya sebenarnya ‘pencapaian’ ini bila seandainya handset-nya tidak hampir seluruhnya produk impor.

Lebih dari impor handset dan infrastruktur penunjangnya yang besar, yang juga sangat besar lagi ‘uang mengalir keluar’ dari segenap lapisan masyarakat negeri ini adalah lewat pulsa dan abonemen telepon seluler yang kita bayar – yang seolah sudah ikut-ikutan menjadi ‘kebutuhan pokok’ bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang bulu. Kita tahu bahwa 3 operator terbesar telepon seluler menguasai lebih dari 90 % pasar, dan melalui tiga operator ini saja kepemilikan asing begitu besarnya sehingga mereka ikut menikmati keuntungan yang sangat besar pula dari pulsa-pulsa yang Anda dan saya bayar setiap hari.

Telkomsel sebagai pemegang pangsa terbesar untuk telepon seluler di Indonesia, 35% sahamnya milik SingTel dan 65 % milik Telkom – di Telkom-nya sendiri pemerintah kita menguasai sekitar 52.47% saham – 47.53 %  adalah milik publik, namun dari saham publik ini bagian terbesarnya adalah investor asing (45% lebih) sisanya dalam jumlah yang kecil ( sekitar 3 %) adalah investor di dalam negeri.

Indosat sebagai operator seluler nomor 2 terbesar, lebih dari 70% sahamnya dimiliki asing, yaitu 65% QTel dan 5.38% Skagen. Demikian juga XL di urutan ke 3 malah sekitar 80%-nya asing (posisi April 2011),  yaitu 66.7 % XL –Axiata (Malaysia) dan 13.3 % Emirates Tel.Co. (Etisalat).

Dengan ilustrasi tersebut diatas maka sejak bangun tidur kita sarapan mie dari terigu impor, nelepon teman dengan telepon impor, sms dlsb membayar pulsa yang sebagian besar uangnya juga lari keluar, siang hari makan dengan tempe goreng dari kedelai impor, sore hari sambil pulang kerja mampir beli tahu goreng dipinggir jalan yang kedelainya sekitar 80% impor, sampai malam hari menjelang tidur minum susu bareng anak-anak – juga susu impor. Bahkan untuk melawan dinginnya malam, tidur-pun masih berselimutkan selimut dari kapas yang 99.5%-nya impor.

Dalam dunia pemasaran global, bila kita lebih banyak impor dari yang bisa kita ekspor – maka kita menjadi bangsa yang ‘kalah’. Itulah sebabnya negeri seperti Amerika Serikat berjuang habis-habisan untuk sekedar bisa memperbaiki posisinya yang kini juga kalah telak dengan negeri lain khususnya China. Lantas apa perjuangan yang kita lakukan untuk bisa menang dari situasi yang kini kita hadapi tersebut diatas ?.

Di tengah kesibukannya mengurus panggung politik dan partainya masing-masing yang penuh hingar bingar apalagi dalam beberapa tahun mendatang menjelang 2014, sungguh saya masih berpengharapan agar para pemimpin negeri ini juga masih sempat berjuang memperbaiki ‘kekalahan-kekalahan’ kita dalam dunia perdagangan global tersebut diatas.

Tetapi pada saat yang bersamaan kita sebagai rakyat juga tidak bisa hanya berpangku tangan dan mengharapkan hasil karya para pemimpin kita saja. Kita sebagai rakyat juga harus berjuang habis-habisan untuk bisa mengubah ‘kekalahan-kekalahan’ tersebut menjadi kemenangan-kemenangan di masa-masa mendatang. Kongkritnya dengan apa kita bisa menang melawan kekuatan-kekuatan global yang begitu perkasanya mencengkeram hampir keseluruhan kebutuhan kita ini ?.

Dengan mulai membangun karakter para pemenang pada masing-masing diri kita sendiri seperti yang pernah saya tulis dalam tulisan “WIN…” , Lebih dari itu kita juga harus yakin bahwa kemenangan hanya akan kita peroleh bila Allah menolong kita, sedangkan Allah hanya akan menolong kita bila kita menolong (Agama)-Nya. Maka sekecil apapun yang kita bisa lakukan- lakukanlah !, siapa tahu perbuatan kita yang tidak seberapa tersebut bisa memancing pertolonganNya.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS 47:7). “Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? ….” (QS 3 : 160).

Bila kita bekerja dengan mengikuti hukum sebab-akibat untuk meraih kemenangan yang dinjanjikan Allah ini - bila kita termasuk orang-orang yang beriman – insyaAllah kita-pun bisa menang. Dengan hukum sebab-akibat untuk memperoleh kemenangan di segala bidang yang telah begitu nyata ditunjukkan sendiri olehNya tersebut diatas, mengapa kita tidak mulai mencoba menempuhnya untuk menjadikan negeri ini negerinya para (calon) pemenang ?. InsyaAllah.



Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:

Janganlah Lalai dan Santai...

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling.” (Al-Hajj: 1).

Maha Kuasa Allah yang menciptakan arena bumi sebagai sarana ujian. Kekayaan alam yang begitu melimpah. Sungai-sungai jernih yang melahirkan kehidupan. Hujan yang membangkitkan harapan. Dari situlah, hamba-hamba Allah membuktikan diri: apakah ia sebagai hamba yang konsisten atau dusta.

'Ada baiknya berhati-hati dengan yang boleh';

Tak ada yang tanpa batas di dunia ini. Karena sunnatullah dalam alam, semua tercipta dalam takaran tertentu. Dari takaran itulah, keseimbangan bisa langgeng. Termasuk keseimbangan dalam diri manusia.

Kalau keseimbangan goyah, yang muncul adalah kerusakan. Dalam diri manusia, ada tiga keseimbangan yang mesti terjaga: keseimbangan akal, rohani, dan fisik. Satu keseimbangan terganggu, seluruh fisik mengalami kerusakan.

Ketidakseimbangan bukan cuma dari sudut kekurangan. Berlebih-lebihan pun bisa memunculkan ketidakseimbangan. Termasuk dalam pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis. Di antara urusan fisik adalah makan dan minum.

Allah SWT berfirman, “….makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)

Berlebih-lebihan dalam makan dan minum, walaupun halal, bisa memunculkan penyakit. Lebih dari lima puluh persen sumber penyakit berasal dari lambung. Karena itulah, Rasulullah saw. meminta kaum muslimin untuk mengerem makan. Dan cara yang paling bagus adalah dengan puasa. Masih banyak hal boleh lain yang mesti pas dengan takaran. Di antaranya, hubungan seksual suami istri, tidur, dan juga bersantai.

'Ada kecenderungan manusia senang bersantai';

Sudah menjadi sifat dasar manusia memilih jalan yang gampang daripada yang sukar. Lebih memilih santai ketimbang banyak kerja.

“Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.” (Al-Balad: 11)

Santai pada timbangan yang proporsional memang bagus. Karena itu bermakna istirahat. Dari istirahatlah keseimbangan baru bisa lahir. Dengan istirahat, lelah bisa tergantikan dengan kesegaran baru.

Tapi, ketika santai tidak lagi proporsional, yang muncul hura-hura dan kemalasan. Orang menjadi begitu hedonis. Orientasi bergeser dari keimanan kepada serba kesenangan. Saat itu, santai tidak cuma menggusur jenuh, tapi juga kewajiban-kewajiban. Bisa kewajiban sebagai suami, anak, dan juga sebagai hamba Allah swt.

Di antara ciri orang beriman adalah berhati-hati dengan perbuatan yang sia-sia.
Allah SWT berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Al-Mu’minun: 1-3)

Rasulullah saw. mewanti-wanti para sahabat agar berhati-hati dengan waktu senggang.
Beliau saw. bersabda, “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari)

Ada banyak cara menggusur letih dan jenuh. Letih dan jenuh kadang tidak cuma bisa disegarkan dengan santai. Ada banyak cara agar penyegaran bisa lebih bermakna dan sekaligus terjaga dari lalai.

Para sahabat Rasul biasa mengisi waktu kosong dengan tilawah, zikir, dan shalat sunnah. Itulah yang biasa mereka lakukan ketika suntuk saat jaga malam. Bergantian, mereka menunaikan shalat malam.

Bentuk lainnya adalah bermain dengan istri dan anak-anak. Rasulullah saw. pernah lomba lari dengan Aisyah r.a. Kerap juga bermain ‘kuda-kudaan’ bersama dua cucu beliau, Hasan dan Husein. Dari sini, santai bukan sekadar menghilangkan jenuh. Tapi juga membangun keharmonisan keluarga.

Rasulullah saw. mengatakan, “Orang yang cerdik ialah yang dapat menaklukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah wafat. Orang yang lemah ialah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah.” (HR. Abu Daud)

'Ada pihak lain yang mengintai kelengahan kita';

Pertarungan antara hak dan batil tidak kenal istilah damai. Tetap dan terus berlangsung hingga hari kiamat. Dari situlah, saling mengintai dan saling mengalahkan menjadi hal lumrah. Dan kewaspadaan menjadi hal yang tidak boleh dianggap ringan.

Pihak yang jelas-jelas melakukan pengintaian adalah musuh abadi manusia. Dialah iblis dan para sekutunya. Allah SWT membocorkan itu dalam firman-Nya.
“Iblis mengatakan, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 16-17)

Pihak lain adalah kelompok manusia yang tidak suka dengan perkembangan Islam. Mereka selalu mengintai kelemahan umat Islam, mengisi rumah-rumah umat Islam dengan hiburan yang melalaikan. Bahkan, mengkufurkan. Masih banyak upaya lain orang kafir untuk menghancurkan Islam.

Karena itu, berhati-hatilah dengan waktu luang. Kalau tidak bisa diisi dengan yang produktif, setidaknya, isilah dengan yang tidak melalaikan.
Wallahu A’lam.




Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas: