kantor di rumah

kantor di rumah (Small Office Home Office) adalah Solusi Bisnis untuk kita bersama. Analisa, Strategi, Promosi dan Ikhtiar ber-bisnis mandiri kita bahas bersama di sini.

Jl. Prof DR Lafran Pane No.26, Cimanggis, Depok. | SMS +62-812-8000-7019

Membangun bisnis mandiri skala International

Membangun bisnis mandiri Eksportir Indonesia bersama pebisnis Korea, China dan Malaysia.

http://eksportir-indonesia.com | email:eksportir.indonesia@gmail.com

Bersama kita bisa...!!!

Bersama-sama membangun Bisnis Mandiri untuk mendapatkan Kebebasan Waktu dan Kebebasan Finansial bersama komunitas kantor di rumah.

Komunitas Kantor di Rumah: http://facebook.com/kantor.di.rumah.

Kebebasan Waktu dan Kebebasan Finansial

Dengan memiliki Bisnis Mandiri yang baik dan stabil, kebebasan waktu dan kebebasan finansial dapat kita miliki sehingga kita memiliki waktu yang berkualitas untuk beribadah dan keluarga.

Dari Rumah hingga ke mancanegara

Dengan ide yang cemerlang, kita bisa memiliki bisnis dari kantor di rumah hingga ke Mancanegara...

http://eksportir-indonesia.com

Selamat Datang Sharing Economy


Senin (14/3) lalu kawasan Balai Kota DKI Jakarta, Istana Negara, dan kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika diserbu ribuan pengemudi taksi.

Mereka berdemo menolak kehadiran taksi yang berbasis aplikasi online. Anda pasti bisa dengan mudah menerka penyebabnya. Iya, penghasilan mereka terpangkas akibat hadirnya taksi berbasis aplikasi. Bahkan sebetulnya bukan hanya taksi itu yang membuat penumpang berpindah. Ojek online merebut sebagian pasar taksi konvensional.

Mereka mengeluh, utang setoran ke perusahaan terus bertambah. Padahal, uang yang dibawa pulang untuk makan anak-istri makin turun. Kita tentu prihatin dengan kenyataan tersebut. Apalagi jumlah pengemudi angkutan umum ini tidak sedikit. Seluruhnya bisa mencapai 170.000-an. Sampai di sini Anda mungkin bergumam: Mengapa mereka tidak berubah saja? 
Kemana para eksekutifnya? Mengapa mereka membiarkan pasarnya digerus para pelaku bisnis online tanpa berupaya melakukan perubahan internal? 
Tentu semua ini tak akan mudah.

Sampai di sini adagium perubahan kembali berbunyi: Kalau rasa sakit manusia itu belum melebihi rasa takutnya, rasanya belum tentu mereka mau berubah. Maaf, pesan ini berlaku buat kita semua, baik yang sedang duka maupun yang masih gembira. Tapi, supaya fair, kita juga mesti melihatnya dari sisi yang lain, yakni pengemudi taksi berbasis aplikasi dan ojek online.

Mereka juga tengah mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan anak istrinya. Lalu, pelanggannya juga senang memakai taksi berbasis aplikasi karena serasa naik mobil pribadi dan tarifnya pun murah. Begitu selesai langsung turun. Praktis. Tak pakai bayar-bayaran tunai. Bisnis taksi berbasis aplikasi ini juga punya pesaing. 
Anda bisa klik www.nebeng.com. Iniaplikasi yang juga mempertemukan pemilik kendaraan pribadi dengan mereka yang membutuhkan angkutan ke arah yang sama.

Tarifnya tak kalah bersaing. Misalnya tarif dari Perumahan Vila Nusa Indah di Bekasi ke Jakarta hanya Rp15.000 sekali jalan. Murah! Para pemilik kendaraan yang rela “ditebengi” ini juga ikut andil dalam mengurangi kemacetan di Jakarta. Ketimbang setiap orang naik mobil pribadi, lebih satu mobil dipakai bersama-sama dengan cara nebeng. Jumlah mobil yang masuk ke Jakarta jadi lebih sedikit.

Pertarungan Business Model 

Tapi, mari kita bahas soal perseteruan taksi konvensional vs taksi berbasis aplikasi. Hadirnya taksi berbasis aplikasi, menurut saya, adalah penanda datangnya era crowd business. 
Apa itu crowd business?

Sederhana. Ini bisnis yang kalau Anda mencoba mencari polanya bakal pusing sendiri. Sebab serba tidak jelas. Misalnya, tidak jelas batasan antara produsen dan konsumen. Juga, tidak jelas kreditor dengan debitor.

Siapapun bisa menjadi pemasok Anda, tetapi sekaligus menjadi konsumen Anda.
Crowd business kian kencang berputar akibat kemajuan teknologi informasi—yang terutama membuat arus informasi mengalir deras dan sekaligus memangkas biaya-biaya transaksi. 
Dulu kalau kita mau mencari suatu barang mesti menghabiskan waktu, tenaga dan uang. Kita datang ke beberapa toko, melihat barang, membandingkan harganya, dan melakukan tawar-menawar.

Kalau setuju, baru kita membayar. Kini tidak perlu lagi. Kita cukup berselancar di dunia maya, mencari barang dan membandingkannya, memilih, memesan, lalu membayar. Semuanya bisa dilakukan tanpa kita harus beranjak dari kursi dan dengan biaya nyaris nol. Itu pula yang terjadi dalam perseteruan antara bisnis taksi konvensional vs taksi berbasis aplikasi.

Di bisnis taksi konvensional, kita bukan hanya harus membayar jasa angkutannya, tetapi secara tidak langsung juga mesti menanggung biaya kredit mobilnya, gaji pegawai perusahaan taksinya, biaya listrik dan AC, dan sebagainya. Di bisnis taksi berbasis aplikasi, kita tidak ikut menanggung biaya-biaya tersebut. Jadi, tak mengherankan kalau tarifnya bisa lebih murah. Kolega saya pernah membandingkan.

Untuk rute Cakung ke Halim Perdanakusuma yang samasama di Jakarta Timur, dengan taksi konvensional tarifnya Rp105.000, sementara dengan taksi berbasis aplikasi hanya Rp55.000. 
Ini jelas pilihan yang mudah buat calon konsumen.

Switching cost dalam industri ini amat rendah. Maka terjadilah downshifting. 
Lalu, bagaimana yang satu bisa lebih mahal ketimbang yang lain? Ini adalah persoalan model bisnis.

Analoginya mirip bisnis penerbangan full service dengan low cost carrier (LCC). 
LCC mendesain model bisnisnya dengan memangkas berbagai biaya, sehingga tarifnya menjadi lebih murah ketimbang maskapai penerbangan yang full service. Model bisnis inilah yang membuat bisnis taksi era lama bakal segera usang.

Pesaingnya bukan sesama bisnis taksi, melainkan para pembuat aplikasi yang mempertemukan para pemilik mobil pribadi dengan calon konsumen yang membutuhkan jasa angkutan.

Selamat datang di peradaban sharing economy. 
Efisiensi menjadi kenyataan karena kita saling mendayagunakan segala kepemilikan yang tadinya idle dari owning economy.

Berdamai, bukan Menentang 

Kasus serupa bisnis taksi bakal kita jumpai dalam bisnis-bisnis yang lain. Di luar negeri, pangsa pasar bisnis perbankan mulai terganggu oleh hadirnya perusahaan-perusahaan crowd funding.

Anda bisa cek ini di www.lendingclub.com

Perusahaan ini mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit ke masyarakat.

Bedanya, proses mendapatkan kreditnya jauh lebih simpel ketimbang perbankan, dan suku bunganya pun lebih murah.

Di Indonesia, bisnis ala lending club sudah ada. Anda bisa cek website-nya di www.gandengtangan.org.

Memang untuk sementara bisnis yang didanai masih untuk usaha skala UMKM dan social enterprise. Tapi, siapa tahu ke depannya bakal melebar ke mana-mana

Di luar negeri, ada www.airbnb.com yang mempertemukan para pemilik rumah pribadi yang ingin menyewakan rumahnya dengan orang-orang yang mencari penginapan.

Soal tarif, jelas lebih murah ketimbang hotel. Lalu, ada juga aplikasi yang mempertemukan para pemilik mobil pribadi dengan calon konsumen angkutan darat. Namanya Lyft.

Hadirnya aplikasi ini membuat bisnis taksi tersaingi. 
Begitulah, kita tak bisa membendung teknologi. Ia akan hadir untuk menghancurkan bisnis bisnis yang sudah mapan—yang tak bisa beradaptasi dengan perubahan.

Persis kata Charles Darwin, bukan yang terkuat yang akan bertahan, tetapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Maka, kita harus berdamai dengan perubahan. Bagaimana caranya? Di luar negeri, para pengelola chain hotel berdamai dengan kompetitornya, para pemilik rumah yang siap disewakan melalui jasa www.airbnb.com

Caranya, mereka menjadi pengelola dari rumah-rumah yang bakal disewakan tersebut sehingga ruangan dan layanannya memiliki standar ala hotel.

Belum lama ini saya menikmatinya di sebuah desa di Spanyol Selatan, dan saya puas. Kasus serupa menimpa Lego, perusahaan mainan anak, yang terancam bangkrut pada awal 1990-an. Hadirnya video games membuat anak-anak kita tak berminat lagi dengan batu bata mainan buatan Lego. Namun, perusahaan itu mampu bangkit lagi dengan mengandalkan inovasi dari orang-orang di luar perusahaan, atau crowd sourcing.

Mereka semua belajar dari model bisnis Kick Starter yang fenomenal. Lego tak melawan perubahan, tetapi berdamai. Saya tidak punya resep khusus bagaimana caranya setiap perusahaan mesti menghadapi perubahan. Intinya jangan menentang. Berdamailah dengan perubahan.

Demikian juga pesan saya kepada bapak Presiden, Menteri Perhubungan, Gubernur DKI, dan Menteri Kominfo.

Kita butuh cara baru yang berdamai dengan perubahan.

Maka, kita semua akan selamat.

 – Rhenald Kasali --


My Link List

Hedonic Treadmill


Pertanyaan: Kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan? Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yg kemudian dikenal dengan nama: “hedonic treadmill”.

Gampangnya, hedonic treadmill ini adalah seperti ini : saat gajimu 5 juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh semua habis juga.Kenapa begitu? Krn ekspektasi n gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dg kenaikan penghasilanmu.Dengan kata lain, nafsumu utk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dg peningkatan income-mu. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill: seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju !

Nafsu materi tidak akan pernah terpuaskan.
Saat income 10 juta/bulan, mau naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan pengen berubah naik Alphard. Itu salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill.

Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski income makin tinggi. 
Ada eksperimen menarik: seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp 5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah.Apa yang terjadi? 6 bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagaiaan orang itu SAMA dengan sebelum ia menang undian berhadiah.Itulah efek hedonic treadmill.

Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? 
Lolos dari jebakan nafsu materi yg tidak pernah berujung ?

Terapkan lah  gaya hidup yg bersahaja ! sekeping gaya hidup yg tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.
Mengubah orientasi hidup ! makin banyak berbagi , semakin banyak memberi kepada orang lain, teruji justru semakin membahagiakan... Bukan -lah banyak mengumpulkan materi yg membuat kebahagiaanmu terpuaskan !
When enough is enough.

Kebahagiaan itu kadang sederhana : misal masih bisa menikmati secangkir kopi panas, memeluk anggota keluarga yg sehat, tersenyum memulai hari hari, menyapa dan mengasih tip ke tukang sampah, lanjut  membaca "makanan" spiritual sepanjang perjalanan menuju tempat tugas berbakti utk bangsa dan agama, maka betapa indahnya hidup ini !  
Selamat menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Semoga bermanfaat...

Tulisan mantan rektor ITB, 
Prof. Akhmaloka


My Link List

Era Bisnis Online


Salah satu bank terbesar di Belanda mem PHK 550 orang Tellernya, ini terjadi karena meningkatnya transaksi online, otomatisasi.

Pengemudi angkutan umum mengadakan demo besar-besaran di depan Balai Kota Pemrpov DKI, dengan alasan terjadinya persaingan yang tidak sehat antara Angkutan resmi dan Angkutan via online, dengan dasar aplikasi online semua orang bisa mengangkut penumpang, tanpa mengajukan ijin resmi kepada Dishub. Ternyata pemesanan angkutan via online membuat tidak nyaman penghasilan angkutan resmi.

Pusat Grosir Terbesar di Indonesia, Tanah Abang, perlahan mulai sepi, kios-kios yang harga sewanya pertahun hingga ratusan juta sudah tidak seramai dulu, pengunjung malas berkunjung karena penuh sesak, tempat terlalu luas.

Alasan paling utama karena bisa beli via online, tinggal buka web, pilih langsung klik dan pesan via online ngga perlu repot-repot.

Aplikasi online gratis yang menghubungkan antara agent property dengan Developer property di launching, namanya PROJEK.

Aplikasi ini terinspirasi dari GOJEK yang sudah mewabah di bumi pertiwi. Sedehana aplikasi PROJEK dengan tagline EVERYBODY CAN SELL ingin mengatakan bahwa semua orang bisa menjadi pedagang, penjual apapun profesi utamanya, cukup mengunduh aplikasinya dan ikuti instruksi yang ada.

Fee yang diterima oleh agent pun juga sudah tertera diaplikasi tersebut.
Fenomena yang terjadi saat ini di dunia sudah mengalami perubahan.

”Dunia semesta semakin mendekat, semakin menempel satu sama lain” kata Jenny M.Xue Kolumnis terkenal yang sering mengisi di kolom Tabloid Kontan.

Dunia digital marketing membawa orang semakin serasa lebih kenal, lebih dekat, lebih berani terbuka, lebih berani membangun personal branding.

Dan ternyata bukan hanya fenomena tetapi kenyataan yang akan dihadapi terus menerus, dari Dunia Iterasi yang selalu melakukan repetisi lanjut ke Dunia Innovasi dan sekarang dunia terdisrupsi.

Kata lainnya DOING THE NEW THING THAT MAKE THE OLD ONES ABSOLUTE, ini yang dijelaskan oleh Prof Rhenald Kasali saat launching Aplikasi PROJEK.

Fungsi karyawan yang hanya mencari nafkah berangkat pagi pulang malam, sedikit demi sedikit sudah tergantikan dengan disruption technology, peluang bisnis makin zigzag, makin lentur bak roller coaster, masyarakat “miskin modal” dengan ide brilliant bukan halangan mendapatkan penghasilan unlimited, dunia mengakui, angel investor bergerak smooth, they want origin idea yang memberikan solusi bagi dunia, ide tidak hanya mengalir dari para kapitalis ringkih tapi dari “anak muda” yang disebut Gen C yang melakukan gebrakan ide yang tak butuh tempat yang ajeg.

cyber place is the new place mengkolaborasi ide, bahkan generasi Jelita(Jelang Lima Puluh Tahun) pun nggak mau kalah. Biar umur sudah Jelita,tapi ide2 masih “Muda”.

Aplikasi PROJEK diendorse oleh mereka.
Prinsipnya sekarang kita dunia sudah berubah,secara nilai-nilai yang ajeg kita tetap harus pertahankan. Tetapi perangkat , tools, media yang ada harus sudah menjadi fokus kita ke depan, melek teknologi, mensinergikan ide dengan tools tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para entrepreneurs, ada banyak peluang-peluang make money dari disruption era ini, mental block bahwa menjadi karyawan pilihan yang paling nyaman untuk saat ini sebaiknya sudah mulai diubah, ke depan peran –peran pelayanan berulang-ulang sudah tergantikan.

Gate Tol saja sdh pakai E-Money ,mungkin beberapa tahun ke depan petugas pintu Tol sudah menghilang.
So apa yang harus kita lakukan ke depannya :

1. UBAH MINDSET
Ubah pola pikir kita tentang dunia ini,kita hidup buat makan atau makan untuk hidup?
nilai-nilai ketauhidan merubah mindset kita tentang hidup,kalau hidup hanya bertujuan untuk menyambung hidup. Tidak akan ada kemuliaan disitu, kata nabi : “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain”.

Merubah mindset akan merubah persepsi kita tentang dunia,berbisnis adalah “MENCARI SOLUSI”.

Membangun bisnis tujuannya memberikan solusi. Zack Zuckerberg membuat Facebook tujuannya ingin menghubungkan antara manusia satu dengan lainnya, dalam satu plattform yang sama.

Google membuat mesin pencari ingin memudahkan orang dalam mengorek informasi. Aplikasi GOJEK dibuat ingin memudahkan orang dalam memesan kendaraan.

Jadi ubah mindset kita tentang uang

2. NO GAPTEK. 
Hari ini puluhan media sosial sudah bertebaran dijagat maya. Dunia semakin dekat, menempel satu sama lain, sudah saatnya keluhan kita terhadap gadget yang makin “menggila” ini disudahi, belajar lah pelan-pelan bagaimana menggunakan medsos di lini online ini, pelajari baik-baik dan bijak.

Banyak training-training dadakan dari komunitas-komunitas yang bisa diikuti. Semakin cepat kita belajar semakin mudah kita memahami dunia ini.

3. PERSONAL BRANDING. Personal Branding
Make Your Own Idea,dunia yang serba menempel telah “menelanjangi semua orang”.
Konsisten dan komitmen satu-satunya jalan dalam meleverage personal branding, jadilah diri sendiri, eksplore dengan baik, fokus pada apa yang menjadi kelebihan, tebar aura positif, buat apa adanya.

Training-training motivasi dapat menambah “energi postif; kita dalam menaikkan kepercayaan diri dan memelihara motivasi

4. BUSINESS MODEL.
Disini letak leverage make money, mulai mencoba membangun ide-ide kreatif dalam mengeksplore ide, jadilah part of solution, dokumentasikan, perbaiki lakukan penetrasi, banyak belajar, banyak silaturahmi, banyak ide-ide yang keluar hingga Disruption Era tampak indah di depan mata.

5. BERKOMUNITAS & KOLABORASI
Hari gini masih Jomblo?? eeh masih bisnis sendiri-sendiri??? Zaman sekarang zaman kolaborasi, zaman partisipasi. Komunitas bisnis, komunitas ide, komunitas hobby merubah persepsi kita tentang mencari modal yang mahal itu.

Contoh simpel saja : Ada kawan butuh modal untuk akuisisi lahan property ratusan juta, dengan membroadcast hitung2an modal, keuntungan dalam satu menit langsung anggota komunitas merespon untuk membiayai, ngga perlu presentasi yang serba ribet, sulit, atraktif. Hal ini terjadi karena barrier koginitif dan afektif sudah selesai, sehingga anggota langsung menyambut tanpa perlu banyak tanya. Dengan berkomunitas personal branding akan lebih mudah dibuat.

6. PHILANTHROPIES 
Ingat..!! Aksi-aksi philantropis akan membuat kita semakin bijak, humble, berdaya guna, berbagi tidak akan mengurangi porsi rejeki malah rezeki semakin menjadi-jadi.

7. ACTION 
Jangan pernah bosan, hidup di dunia hanya sekali, berikan yang terbaik kepada diri anda, orang sekitar, lingkungan hingga agama, bangsa dan negara.

Lakukan aksi dan aksi, evaluasi, perbaharui diri, berfikir positif semoga Allah memudahkan langkah kita.

Sekelumit untuk berbagi, Selalu Bertindak Optimis, hati-hati dan Berusaha Sukses Dalam Kemuliaan.


My Link List

Presiden Jokowi menghapuskan 5 (lima) ijin usaha penghambat kemudahan berusaha dan investasi di Indonesia.


Info : pada Rabu 16 Maret 2016 Presiden Jokowi menghapuskan 5 (lima) ijin usaha penghambat kemudahan berusaha dan investasi di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business) di Tanah Air yang masih di peringkat 109 dari 189 negara.

5 (lima) izin tersebut adalah:

1.       Izin Gangguan/Hinder Ordonantie/HO)
Surat keternagan yang menyatakan tidak adanya keberatan dan gangguan atas lokasi usaha yang dijalankan suatu kegiatan usaha di suatu tempat.

2.       Izin Tempat Usaha
Izin yang diberikan kepada perusahaan/perorangan untuk memperoleh tempat usaha sesuai dengan tata ruang wilayah yang diperlukan dalam rangka penanaman modal

3.       Izin Prinsip untuk industri kecil dan menengah (IKM)
Izin dari pemerintah daerah atau provinsi, atau pemerintah daerah kabupaten/kota yang wajib dimiliki dalam rangka memulai usaha.

4.       Izin Lokasi
Izin yang diberikan kepada perusahaan untuk memperoleh tanah yang diperlukan dalam rangka penanaman modal.

5.       Izin Analisis Dampak Lingkungan (Amdal)
Kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha.

Khusus untuk Amdal, jika dalam satu kawasan telah memiliki Amdal maka perusahaan tidak berkewajiban mengurus kembali Amdal secara individual. Jika di suatu daerah masih ada amdalnya, jika dulu masih diminta amdalnya maka kedepannya akan dihilangkan dan akan dikeluarkan dalam satu peraturan mengenai hal tersebut.


Referensi:
1.       http://ekbis.sindonews.com/read/1093174/34/jokowi-hapus-lima-izin-penghambat-kemudahan-investasi-1458040550
2.       https://www.harianaceh.co.id/2016/03/15/lima-izin-usaha-dihapus-presiden-joko-widodo/
3.       http://haluankepri.com/nasional/88761-izin-amdal-dihapus.html


My Link List

Strategi Bisnis dibalik Kisah Nabi Nuh 'Alaihissalam

Terkisah Nabi Nuh 'Alaihissalam, yang diuji dengan ummat yang sukar diajak tuk beriman. Terkabar ilahi akan hadirnya banjir bandang. Nabi Nuh AS kemudian membangun kapal diatas gunung nan tinggi. Semua orang mengejek, mencela, bahkan menganggap gila. Tak hanya ummatnya, anaknya pun tak sanggup ia Selamatkan.

Banjir besar pun datang. Menyapu peradaban. Kecuali mereka yang beriman. Yang memilih menaiki bahtera harapan. Itulah sejengkal kisah peradaban. Dihadirkan agar diambil pelajaran. 

*****

Kali ini Saya tidak pada posisi membahas kisah Nabi Nuh sebagai seorang ulama. Karena memang Saya tidak pakar dalam hal tersebut. Namun ijinkan hamba nan bodoh ini mengambil ibroh bisnis dari kisah Nabi Nuh.

Kisah Nabi Nuh dan Kapalnya mengusik fikiran Saya semalaman suntuk. Bagaimana kisah Nabi Nuh ini berkesuaian dengan apa yang terjadi dalam dunia bisnis sekarang : disruption atau penggilasan.

*****

Di tahun 1990an, santer terdengar isu tentang perkembangan dunia telekomunikasi. Isu santer itu bernama Global System for Mobile-Communication atau yang disingkat dengan GSM. Ada isu besar, bahwa ada teknologi yang membuat manusia tak lagi berkomunikasi via kabel. Teknologi ini membuat manusia bisa terhubung secara nirkabel.

PT Telkom sebagai raksasa telekomunikasi sedang menikmati indahnya pembayaran tarif telepon fix line. Dengan bersumber dari pembayaran telepon rumah, Telkom sedikit terbuai, namun tidak untuk beberapa orang yang meyakini "Banjir Bandang" akan datang. Banjir Bandang itu bernama GSM.

Sejak tahun 1993, mereka bergerak mendirikan bakal calon anak perusahaan yang kan berteknologi GSM. Dan di tahun 1995, berdirilah Telkomsel.

Membangun Telkomsel di tahun 1995, ibarat membangun Kapal diatas gunung. Tidak sedikit pesimisme dan cibiran berdatangan dari mereka yang tidak "mengimani" banjir bandang GSM. Itulah kabar burung yang Saya dengar dari para pendiri Telkomsel di generasi pertama. Mereka seakan orang-orang aneh dalam sejarah. 

Di tahun awal-awal pendiriannya, Telkomsel cukup terseok menghadirkan layanan. Pelanggan pun masih sangat minim. Maklum, tekonologinya masih belum merata.

Sejarah berlalu, banjir bandang pun terjadi. Arus GSM mengalir keras ke peradaban. Perangkat mobile phone menyesaki saku-saku penduduk Indonesia. Peradaban telepon rumah seakan ditinggalkan. Sebagian dipertahankan untuk sekedar syarat pencairan kredit bank. 

Kini, konon Telkomsel memasok mayoritas pendapatan Telkom Group. Perusahaan yang dahulu dicibir ini mendadak menjadi "Bahtera Nuh" bagi perusahaan raksasa telekomunikasi Indonesia. Selamat.

*****

Sejalan dengan cerita Nabi Nuh, teknologi GSM ini hadir bersamaan dengan teknologi internet, surel dan kerabatnya. Sebuah perusahaan jasa pengiriman nasional yang tak bisa Saya sebutkan namanya, entah bagaimana, tidak begitu mengimani kabar hadirnya "Banjir Bandang" Teknologi.

Kini perusahaan tersebut bertahan walau berat. Andai perusahaan tersebut sempat membangun "Bahtera Nuh"-nya, Saya yakin, keadaan perusahaan tersebut tak akan seperti saat ini.

Aset-aset perusahaan tersebut kini mulai menua dan tak terawat. Model bisnis mereka kini mulai direvolusi menjadi payment gateway dan ekspedisi barang. Walau terseok, mereka tetap bertahan. Persis seperti kampung paska banjir : recovery nya berat.

*****

Ada beberapa hal yang dapat kita petik ambil pelajaran :

1. Banjir Bandang Pasti Datang

Dalam dunia yang terus bergerak, perubahan adalah hal yang pasti terjadi. Yang jarang disadari adalah... perubahan yang terjadi akan berdampak seperti banjir bandang. 

Perhatikan hal berikut ini,

Anda berbisnis di industri kapal feri. Sebuah moda angkutan laut jarak pendek. Biasanya menghubungkan pulau antar selat. Apa yang terjadi jika pemerintah berhasil membangun jembatan atau terowongan bawah laut? Banjir bandang.

Anda berbisnis jualan pulsa, bagaimana jika suatu hari dunia terkoneksi internet, sehingga orang tidak perlu lagi membayar pulsa untuk berkomunikasi? Banjir bandang.

Anda memiliki bisnis kursus bahasa inggris, bagaimana jika suatu saat, ada platform edukasi bahasa inggris yang tidak lagi membutuhkan kehadiran fisik peserta didik? Banjir bandang.

Bisnis apa pun yang kita lakukan hari ini, tidaklah lepas dari ancaman banjir bandang. Karena begitulah dunia terus berubah

2. Bangunlah Bahtera Nuhmu

Banjir Bandang adalah keniscayaan, namun hal itu bukanlah ancaman ketika Anda berhasil membangun Kapal diatas gunung. Seperti Telkom yang berhasil membangun Telkomsel, Seperti Trans Grup yang berhasil memodifikasi Mallnya menjadi wahana rekreasi, karena mereka menyadari.. bahwa orang tidak akan lagi datang ke mall untuk berbelanja, namun untuk rekreasi. Dan biarkan impulse buying sebagai trigernya. 

Apakah Anda sudah membangun kapal Nuh Anda?

3. Yang menghina hanya akan tenggelam

Lihatlah kisah Nabi Nuh, mereka yang menghina akhirnya larut bersama banjir bandang.

Ini persis seperti kesadaran Kodak akan kamera digital. Mereka mentertawakan konsep camera digital yang tidak memiliki film didalamnya. Kodak mentertawakan kapal Nuh yang dibangun canon. Dan sekarang kodak tenggelam dalam "kekufurannya"

Begitulah nokia, yang mentertawakan android, dimana nokia sangat mengagung-ngagungkan syimbian nya. Dan akhirnya mereka harus tenggelam bersama kesombongannya.

Begitulah biro-biro travel yang tidak move on ke perilaku digital. Mereka harus gigit jari melihat Traveloka melahap hampir seluruh market share penjualan tiket mereka. Mereka tenggelam bersama banjir bandang perubahan.

*****

Semoga Allah melindungi kita semua, dari Banjir Bandang yg tak kuasa kita atasi.

Dan semoga Allah menuntun kita semua, agar mampu membangun Bahtera Nuh yang seharusnya.


My Link List