kantor di rumah

kantor di rumah (Small Office Home Office) adalah Solusi Bisnis untuk kita bersama. Analisa, Strategi, Promosi dan Ikhtiar ber-bisnis mandiri kita bahas bersama di sini.

Jl. Prof DR Lafran Pane No.26, Cimanggis, Depok. | SMS +62-812-8000-7019

Membangun bisnis mandiri skala International

Membangun bisnis mandiri Eksportir Indonesia bersama pebisnis Korea, China dan Malaysia.

http://eksportir-indonesia.com | email:eksportir.indonesia@gmail.com

Bersama kita bisa...!!!

Bersama-sama membangun Bisnis Mandiri untuk mendapatkan Kebebasan Waktu dan Kebebasan Finansial bersama komunitas kantor di rumah.

Komunitas Kantor di Rumah: http://facebook.com/kantor.di.rumah.

Kebebasan Waktu dan Kebebasan Finansial

Dengan memiliki Bisnis Mandiri yang baik dan stabil, kebebasan waktu dan kebebasan finansial dapat kita miliki sehingga kita memiliki waktu yang berkualitas untuk beribadah dan keluarga.

Dari Rumah hingga ke mancanegara

Dengan ide yang cemerlang, kita bisa memiliki bisnis dari kantor di rumah hingga ke Mancanegara...

http://eksportir-indonesia.com

Harta Kita, Aset atau Liability? (di Akhirat)

Ini nasihat untuk diri saya sendiri yang mungkin juga berguna bagi anda yang membaca blog ini.

Ketika Rasulullah SAW mendapatkan pertannyaan dari sahabatnya tentang apa yang harus di nafkahkan, Allah menurunkan wahyu kepada RasulNya untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban Al-Afwa – seluruhnya (yang lebih dari keperluan) – QS 2:219. Kemudian di ayat-ayat lain Allah mengancam orang-orang yang tidak menafkahkan hartanya di Jalan Allah (lihat QS 104:1-3 ; QS 9:24 ; QS 9:34-35).

Dengan perintah menafkahkan harta di jalan Allah beserta ancamannya apabila tidak melakukan yang demikian, tidak berarti juga kita boleh mentelantarkan diri, keluarga dan ahli waris kita. Ada empat penggunaan harta yang dibatasi seperlunya, yaitu :

1) Untuk diri sendiri : lihat QS 57:27 dan QS 7:32 dan juga hadits Rasulullah SAW yang berbunyi “Sungguh jasadmu punya hak atas kamu, matamu punya hak atas kamu, istrimu punya hak atas kamu, dan tamumu-pun punya hak atas kamu “ HR. Bukhari.
2) Untuk keluarga sebagaimana dalam hadits :’ Mulai sedekahmu pada orang yang menjadi tanggunganmu” HR. Bukhari.
3) Untuk mengantisipasi kebutuhan dharurat sebagaimana hadits : “Pegang sebagian hartamu, hal ini dianjurkan untukmu (sebagai cadangan untuk kebutuhan masa depan)”. HR. Bukhari – Kitab Zakat
4) Untuk Ahli Waris sebagaimana ayat “ Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka kawatir terhadap (kesejahteraan) mereka”. dan juga hadits Rasulullah yang berbunyi :”meninggalkan tanggungan (keluargamu) dalam kemakmuran adalah lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam kondisi miskin dan bergantung pada belas kasihan orang lain. Setiap pengeluaranmu untuk keluargamu adalah sedeqah meskipun hanya sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu”. (HR. Bukhari – Kitab Wasiyat)

Empat hal tersebut boleh dan bahkan dianjurkan, namun kriteria batasannya adalah seperlunya. Penggunaan harta yang tidak dibatasi dengan kriteria ‘seperlunya’ adalah hanya untuk kebutuhan Fi Sabilillah seperti dalam QS 2:219 tersebut diatas.

Lantas bagaimana kita mengetahui kebutuhan yang seperlunya tersebut ?; Setiap diri kita dilengkapi ilham oleh Allah swt. sebagaimana ayat “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS 91:8). Ilham ini juga berlaku untuk mengetahui tingkat ‘keperluan’ harta kita untuk 4 hal tersebut diatas. Mata hati kita tahu sebenarnya berapa yang kita butuhkan untuk diri sendiri, keluarga, dan ahli waris.

Hanya saja untuk mengantisipasi kebutuhan keluarga kita, kebutuhan anak kita untuk sekolah 18 tahun yang akan datang menjadi sulit kalau kita menggunakan alat ukur yang tidak adil – yang tidak memiliki nilai daya beli tetap dalam rentang waktu yang menengah panjang. Untuk rencana pendidikan anak kita sampai selesai S1 yang sekarang baru lahir kita butuhkan berapa ? tentu tidak mudah apabila kita gunakan nilai Rupiah ataupun Dollar dalam perhitungannya – karena daya beli nilai uang kertas tersebut terus mengalami penurunan dari waktu ke waktu.

Disinilah perlunya umat Islam menggunakan uangnya sendiri yang adil sepanjang zaman, yang memiliki daya beli tetap sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang yaitu Dinar dan Dirham.

Dengan menggunakan mata uang atau timbangan yang adil, kita dapat mengalokasikan harta kita secara adil pula untuk 4 hal yang dibatasi ‘keperluan’ tersebut diatas dan sisanya kita harus infaqkan di jalan Allah ; atau terus diputar dalam usaha namun hasilnya memang diniatkan untuk infaq di jalan Allah.

Dengan timbangan yang adil berupa Dinar dan Dirham tersebut kita berharap semoga Asset kita di dunia tetap menjadi asset di Akhirat karena kita infaqkan sesuai haknya, kita juga berlindung dari asset dunia yang menjadi liability di Akhirat. Wallahu A’lam bi Showab. Ini nasihat untuk diri saya sendiri yang mungkin juga berguna bagi anda yang membaca blog ini.

Wallahu A’lam bi Showab.


Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:

Bisnis Mandiri adalah Job Security untuk kita semua

Ketika baru tamat sekolah, rata-rata kita dan orangtua kita sangat berbahagia bila kita langsung dapat bekerja di perusahaan atau institusi ternama. (Calon) Mertua kitapun merelakan anaknya kita nikahi, karena rata-rata (calon) mertua merasa nyaman bila sang (calon) menantu sudah bekerja. Sebaliknya orangtua maupun (calon) mertua rata-rata tidak merasa nyaman bila kita tidak berusaha mencari 'kerja' melainkan belajar usaha sendiri misalnya. Fenomena ini terjadi karena ilusi kemapanan yang tercipta oleh pemahaman yang tidak sepenuhnya benar tentang keamanan pekerjaan atau "job security".

Pemahaman umum bahwa perusahaan besar atau institusi ternama lebih mampu memberikan "job security", tidak sepenuhnya atau selamanya benar. Tahukah anda bahwa bila karir anda menanjak dengan cepat, ini juga bisa berakibat anda kehilangan pekerjaan dengan cepat? Kok bisa?

Ambil contohnya adalah bila anda seorang karyawan, kemungkinan besarnya anda ingin secepatnya naik pangkat dan menjadi direksi. Justru ketika anda mencapai cita-cita anda menjadi direksi, saat inilah anda kehilangan "job security" yang diidamkan oleh orang tua dan mertua tersebut di atas. Rata-rata direksi bekerja dengan kontrak 3 s/d 5 tahun per periodenya, mereka bisa menjabat rata-rata sampai dua periode. Maka ketika seorang karyawan mencapai posisi direksi, dia harus siap kehilangan pekerjaannya dalam rentang waktu 6 s/d 10 tahun lagi paling lama.

Kalau begitu apakah berarti enakan jadi karyawan biasa saja sampai pensiun? Tidak juga demikian, meskipun realitanya sebagian terbesar karyawan akan tetap menjadi karyawan sampai pensiun, karyawan-karyawan cemerlang di setiap perusahaan atau institusi pasti bercita-cita ingin mencapai puncak karir di perusahaan atau institusinya. Disinilah letak paradox-nya, justru ketika dia benar-benar mencapai karir puncaknya, bisa jadi saat itu pula dia kehilangan "job security"-nya.

Lantas bagaimana kita bisa menciptakan "job security" yang sesungguhnya, yang bisa kita nikmati sampai usia pensiun sekalipun? "Job security" ini justru ada di bidang usaha yang selama ini dipersepsikan paling tidak aman, yaitu pengusaha atau lebih spesifiknya pedagang. Kok bisa?

Bila anda bisa berdagang, anda tidak perlu khawatir dengan pekerjaan anda. Di jaman Rasulullah SAW, percaya diri-nya pedagang ini terwakili oleh kisah Abdur Rahman Ibn 'Auf di bawah ini:
Telah bercerita kepada kami (Isma'il ibn Abdullah) berkata, telah bercerita kepadaku (Ibrahim ibn Sa'ad) dari (bapaknya) dari (kakeknya) berkata; Ketika mereka (kaum Muhajirin) telah tiba di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan 'Abdur Rahman ibn 'Auf dengan Sa'ad ibn al-Rabi'. Sa'ad berkata kepada 'Abdur Rahman,"aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya, maka hartaku aku akan bagi dua dan aku mempunyai dua istri, maka lihatlah mana di antara keduanya yang menarik hatimu dan sebut kepadaku, nanti aku akan ceraikan dan apabila telah selesai masa iddahnya silahkan kamu menikahinya". 'Abdur Rahman berkata,"Semoga ALLAH memberkatimu pada keluarga dan hartamu. Dimanakah letak pasar-pasar kalian?". Maka mereka menunjukkan pasar Bani Qainuqa'. Dia tidak kembali dari pasar melainkan dengan membawa keju dan minyak samin yang banyak. Lalu dia terus berdagang hingga pada suatu hari dia datang dengan mengenakan pakaian dan wewangian yang bagus. Nabi SAW bertanya kepadanya,"Bagaimana keadaanmu?". 'Abdur Rahman menjawab,"Sebiji emas atau seberat biji emas". Dalam hal ini Ibrahim ragu jumlahnya yang pasti. (HR Bukhari).

Abdur Rahman ibn 'Auf tidak tertarik dengan harta halal yang ditawarkan saudaranya, karena dia "percaya diri" bisa mencarinya sendiri dengan cukup melalui perdagangan. Abdur Rahman ibn 'Auf kemudian tercatat dalam sejarah islam menjadi orang yang sangat kaya di negeri yang baru Madinah sampai akhir hayatnya. Meskipun ketika dia berhijrah, dia tidak membawa hartanya yang dia tinggal di Mekkah.

Bukan hanya kaya raya, dia juga termasuk salah satu sahabat yang dijamin masuk surga. Artinya perdagangan yang dia lakukan sampai membuatnya kaya, tidak melanggar sedikitpun ketentuan syariat agama ini. Sebab bila ada sedikit saja yang dia langgar, kemungkinannya dia tidak bisa dijamin masuk surga.

Belajar ber-bisnis mandiri (berdagang) seperti yang dilakukan oleh Abdur Rahman ibn 'Auf tersebutlah yang perlu kita lakukan untuk memperoleh "job security" yang sesungguhnya. Yang perlu kita ketahui hanyalah di mana ada pasar, kemudian melihat apa-apa yang dibutuhkan orang di pasar. Bila kita bisa selalu memenuhi kebutuhan orang di pasar tersebut, itulah bisnis mandiri dan "job security" kita.

Wa Allahu A'lam

Ayo kita mem-bangun bisnis mandiri http://kantor-di-rumah.com menuju bisnis mancanegara http://eksportir-indonesia.com

Note: Bila Anda ingin sharing belajar bersama bisnis mandiri, insyaAllah Anda bisa bergabung di "Bale Inspirasi" dengan mengirimkan CV Anda ke nrachmanbiz@gmail.com. Pertemuan regular dijawalkan akan mulai dilaksanakan di buan Desember 2012 ini.


Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:

Reducing, Preserving or Producing

Dalam kaitannya dengan pengaruh terhadap dinamika kemakmuran anda, aset-aset anda dapat dikategorikan menjadi tiga jenis aset yaitu yang disebut "Wealth Reducing Assets"; aset yang justru menggerogoti kemakmuran anda, "Wealth Preserving Assets"; aset yang mampu mempertahankan kemakmuran anda, dan "Wealth Producing Assets"; aset yang meningkatkan kemakmuran anda. Pengetahuan akan ketiganya akan meningkatkan kemampuan anda mengelola aset-aset anda secara maksimal, untuk kemakmuran anda sendiri dan orang-orang di sekitar anda.

Mungkin anda bertanya,"kok ada jenis aset yang justru menggerogoti kemakmuran?". Ilistrasinya begini, bila anda sekarang memiliki uang Rp.5.000,-, uang tersebut anda belikan beras 1 kg yang cukup untuk konsumsi anda sekeluarga dalam dua hari. Bila uang anda tersebut tidak dibelikan beras sekarang, disimpan dengan jumlah yang sama, maka 4 tahun lagi uang yang sama tersebut hanya cukup untuk membeli 0,5 kg beras, yang cukup untuk konsumsi 1 hari. Jadi dalam hal ini uang kertas yang anda pegang/simpan saja, akan menjadi "Wealth Reducing Asset" atau aset yang mengurangi kemakmuran anda.

Tidak hanya Rupiah, hal yang sama terjadi pada Dollar. Bila US$ 1 sekatang hampir cukup untuk membeli 1 liter bensin di pom-pom bensin asing yang kini marak di Jabodetabek, lima tahun lagi uang Dollar yang sama tidak akan cukup untuk membeli 1/2 liter bensin. Jadi Dollar anda juga termasuk kategori "Wealth Reducing Asset".

Bahkan, ketika Rupiah atau Dollar tersebut didepositokan dengan hasil rata-rata 7% untuk Rupiah dan 2.5% untuk Dollar, dalam lima tahun terakhir sejak Januari 2006, Rupiah dan Dollar ini tetap menjadi "Wealth Reducing Assets" karena pertumbuhan nilainya kalah dengan inflasi yang menurunkan daya belinya terhadap bahan pangan misalnya.

Aset jenis kedua, "Wealth Preserving Assets" adalah aset yang sekadar mampu menjaga tingkat kemakmuran yang sama bila aset tersebut anda pegang atau simpan. Rumah yang anda tinggali misalnya, meskipun dalam Rupiah nilainya terus naik, tetapi tidak membuat anda bertambah makmur. Lha wong rumahnya tetap yang itu kok.

Contoh lain yang sangat kongkrit adalah Emas atau Dinar anda, bila anda simpan kapanpun meski nilainya dalam Rupiah menjadi berlipat-lipat, tetap tidak akan mampu meningkatkan kemakmuran anda. Dinar atau Emas hanya akan mampu mempertahankan kemakmuran anda, sebagai "Wealth Preserving Assets", karena satu Dinar anda tetap setara satu ekor kambing selama lebih dari 1400 tahun!.

Tahun 1966 ketika pendapatan per kapita kita masih di angka US$ 200 , itu setara dengan 42 ekor kambing saat itu. Ketika pendapatan per kapita kita mencapai US$ 900 dalam 32 tahun kemudian tahun 1997, itu setara dengan 20 ekor kambing. Tahun ini, pendapatan per kapita kita meningkat menjadi di kisaran US$ 3,250 , tetapi ini hanya setara sekitar 14 ekor kambing kelas baik atau setara sekitar 14 Dinar saja ! Jadi sebenarnya tingkat kemakmuran kita saat ini tahun 2012 hanyalah 1/3 tingkat kemakmuran di-tahun 1966, padahal pada tahun 1966 terdapat pemotongan uang Rupiah.

Bila memegang Rupiah atau Dollar membuat kemakmuran berkurang, memegang Emas atau Dinar membuat kemakmuran bertahan, lantas aset dalam bentuk apa yang bisa kita pegang yang membuat kemakmuran meningkat? Ada dua solusi untuk ini:

Pertama, aset-aset anda dijadikan aset yang memang tumbuh atau bertambah secara fisik atau bertambah secara significant nilainya, sehingga mampu mengalahkan inflasi, seperti menanam pohon, memelihara kambing, memproduksi kerajinan, memproses berbagai bahan baku menjadi produk jadi yang bernilai lebih, dlsb.

Kedua, aset anda dijadikan modal yang terus berputar. Kalau aset anda berputar seminggu sekali saja dengan hasil bersih 1%, pertumbuhan aset anda sudah akan seperti pertumbuhan asetnya Abdurahman ibn 'Auf. Jadi aset yang digunakan untuk menumbuhkan benda riil, men-create nilai tambah, atau terus berputar sebagai modal adalah aset yang akan menjadi "Wealth Producing Assets", atau aset-aset yang akan meningkatkan kemakmuran anda.

Jadi aset Rupiah dan Dollar yang didepositokan (apalagi bila disimpan dibawah bantal) akan terus menurun daya belinya terhadap benda riil, menggunakan harga emas (=harga kambing) yang digunakan sebagai standar referensi. Lalu untuk Emas atau Dinar sendiri berdaya beli datar/tetap. Sedangkan aset anda yang digunakan sebagai modal dagang ala Abdurahman ibn 'Auf meningkat dengan pesat.

Agar kedepannya lebih banyak aset-aset anda menjadi "Wealth Producing Assets", temukanlah ide-ide cemerlang untuk ber-bisnis mandiri, tingkatkanlah jiwa entrepreneur dalam diri kita. InsyaAllah aset anda bukan hanya akan meningkatkan kemakmuran anda sendiri, tetapi juga bermanfaat untuk ikut meningkatkan kemakmuran orang lain. InsyaAllah.

Wa Allahu A'lam.

http://eksportir-indonesia.com


Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:

TIPS MEMBANGUN USAHA

1.   Selalu mulai usaha Anda dengan doa dan sholat Istigharah, libatkan ALLAH SWT sebelum memulai bisnis anda, ingatlah ALLAH SWT yang memberi kesuksesan. Perbanyaklah sholat Dhuha setiap hari...

2.   Buat perencanaan untuk produk, harga, tempat, strategi promosi dan perencanaan keuangan yang baik.

3.   Pastikan ada permintaan pasar yang nyata dari produk anda, uji kelayakan pasar secara nyata. Jangan melakukan sesuatu berdasarkan asumsi.

4.   Milikilah passion dalam bisnis anda. Passion yg tinggi membantu anda dalam situasi sulit kreatif dan inovatif mencari terobosan baru.

5.   Lakukanlah segala sesuatu dengan baik dan jadilah yang terbaik dalam bidang atau kategori bisnis anda.

6.   Carilah diferensiasi dari produk anda dan jadikan bisnis anda berbeda dengan produk yang lain.

7.   Bekerja keras pada pengembangan konsep bisnis, dan produk, kemudian lakukan improvisasi. Bicaralah dengan para ahli dan berkonsultasi dengan mereka.

8.   Tentukanlah visi dalam bisnis anda, gambarkanlah akan seperti apa bisnis anda tiga tahun ke depan.

9.   Apakah jelas dalam pikiran anda apa yang anda lakukan dan bagaimana anda akan membuatnya bekerja? apakah anda focus ?.

10. Pastikan anda memilih lokasi yang strategis bagi usaha anda.

11. Lakukan strategi pemasaran yang tepat. Pasar adalah awal dan akhir bisnis anda.

12. Fokus kapada Pelanggan adalah penting, berikanlah sesuatu yang lebih dari yang mereka harapkan.

13. Melakukan penelitian menyeluruh di pasar dan dapatkan informasi yang dibutuhkan. Ini penting untuk market survey.

14. Realistis dan objektif dalam melakukan prediksi dan jangan terlalu bersemangat manakala anda sedang sangat berminat dalam suatu bisnis

15. Pastikan anda mempersiapkan rencana bisnis (Business Plan) yang nyata untuk usaha anda tersebut.

16. Meskipun usaha anda adalah usaha kecil namun membuat rencana bisnis yang baik sangat penting.

17. Sebuah rencana bisnis adalah tidak kaku, tetapi harus disesuaikan dengan perubahan yang tak terduga internal dan eksternal

18. Siapkan modal kerja untuk beberapa bulan ke depan. Ini penting untuk kelangsungan usaha anda.

19. Anda adalah pemilik bisnis sekaligus manajer bisnis. Kuasailah pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola bisnis anda.

20. Pastikan anda tahu cara menjalankan bisnis dan bagaimana pasar, bagaimana berurusan dengan pelanggan.

21. Pastikan Anda tahu cara bagaimana mengelola karyawan, dan bagaimana mengelola keuangan dan hal teknis proses bisnis

22. Lakukan efisiensi manakala bisnis sedang dimulai misalnya pilihlah lembur dibandingkan mempekerjakan orang lain.

23. Selalu inovatif dalam menjalankan bisnis.

24. Lebih baik fokus pada sedikit produk dan mencoba menjual kepada lebih banyak pelanggan, dari pada menjual lebih banyak produk untuk beberapa pelanggan.

25. Fokus pada prioritas, dan jangan buang waktu anda pada kegiatan yang tidak relevan.

26. Jangan mengandalkan satu pelanggan dan satu pemasok. Ini adalah bunuh diri bisnis. Berusahalah utk meningkatkan jumlah keduanya.

27. Jangan menjadikan konsumen hanya sebagai sumber profit, bangun relasi dengan konsumen, ini bisa meningkatkan loyalitas konsumen.

28. Sebelum anda menghabiskan terlalu banyak pada beberapa promosi, lebih baik mengujinya pada survey skala kecil untuk berkonsultasi dengan ahli.

29. Pertahankan kualitas terbaik, banyak konsumen lari ke pesaing karena kualitas layanan dan produk kita menurun.

30. Selalu ada resiko dalam bisnis, Jika anda gagal dalam langkah bisnis, carilah pelajaran dan anda akan memiliki pengalaman di dalamnya.

Wa Allahu A’lam


Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:

Melihat potensi berbisnis Sabut Kelapa

Tulisan saya saat ini adalah untuk memenuhi permintaan teman-teman maupun rekan-rekan yang menanyakan perihal ber-bisnis mandiri sabut kelapa. Diantaranya banyak pula yang ingin sampai dapat mem-produksi atau membangun pabrik pengelolaan sabut kelapa, akan tetapi untuk tulisan saat ini baru membahas ruang lingkup dalam melihat potensi bahan baku yang merupakan pilar sangat penting dari bisnis mandiri sabut kelapa.

Saya sangat bersyukur karena saat ini sudah semakin banyak teman-teman yang berencana bahkan sudah memulai menjadi entrepreneur bisnis mandiri yang insyaAllah bisa membangun umat dari ketertinggalan seperti saat ini.

Sabut kelapa merupakan salah satu usaha memanfaatkan sampah buangan produksi kelapa berupa "tepes atau sepet" yang terdapat di sekitar kita. Akan tetapi potensi ini belum tentu ada di lingkungan yang memiliki banyak sekali pohon kelapa, hal ini karena apabila kelapa-kelapa tersebut tidak dikupas, maka potensi tepes/sepet tersebut menjadi "belum ada".

Memang saat ini saya sedang mencoba membuat pabrik kelapa terpadu di Lampung, dimana sabut kelapa merupakan bahagian kecil dari hasil produksi pabrik kelapa terpadu itu. Akan tetapi hal ini sedang dalam tahap permulaan, yang belum bisa disarankan kepada teman-teman bisnis mandiri karena saya sendiri belum mencobanya sampai tuntas.

Untuk melihat potensi bahan baku tepes/sepet diawal perencanaan pembuatan pabrik pengelola sabut kelapa, kita harus mengumpulkan informasi sebagai berikut:
Sebagai gambaran, untuk mendapatkan jumlah produksi sabut kelapa sebanyak 10 Container High Cube 40 feet setiap bulannya, diperlukan supplai tepes/sepet ke pabrik kita sebanyak 60 ribu tepes/sepet per-hari. Apabila di konversikan ke jumlah truk dgn volume bak 12 meter kubik, maka dibutuhkan 20 truk per-hari yang setara 240 meter kubik per-hari..

Ada komentar, "nah lho, bagaimana untuk mendapatkan tepes/sepet sebanyak itu?".
Jawabannya adalah kita harus berkerjasama dengan pengupas-pengupas kelapa, yang biasanya disebut "Bandar Kelapa". Mereka inilah yang biasa mensuplai kebutuhan kelapa untuk di-parut buat santan di kota-kota besar. Biasanya setiap bandar kelapa mengupas setiap harinya 5 ribu kelapa, maka jumlah tepes/sepet hasil kupasannya menjadi 5 ribu tepes/sepet pula.

Nah, apabila sudah memahami hal tersebut maka yang kita perlukan untuk memenuhi salah satu pilar terpenting dari bisnis sabut kelapa yaitu "pilar suplai", maka kita harus bekerjasama dengan 12 bandar kelapa sehingga kebutuhan bahan baku 60 ribu tepes/sepet per-hari (atau 240 meter kubik per-hari) dapat terpenuhi.

InsyaAllah setelah menemukan potensi tersebut disekitar anda, maka anda sudah bisa merencanakan untuk membuat bisnis mandiri pengelolaan sabut kelapa dan kita bisa sharing bersama untuk dapat mewujudkan bisnis mandiri tersebut.

Pembahasan berikutnya dalam sharing belajar bersama ber-bisnis mandiri sabut kelapa adalah merencanakan membangun 3 pilar bisnis yang lain, yaitu: pilar "support", pilar "demand" dan pilar "team business".

Semoga dengan kebersamaan kita dapat selalu meraih keberkahan dari ALLAH SWT. Amin YRA.

http://eksportir-indonesia.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:

Penyebab Musibah karena Hutang

Salah satu doa yang ma'tsur atau dicontohkan untuk kita baca setiap hari pagi dan petang adalah berlindung diri dari Ghalabati Al-Dain atau hutang yang melilit.

Selama ini saya kurang menghayati makna dari do'a ini, namun karena ini dianjurkan oleh Rasullullah SAW , ya sering-sering saja saya baca.

Dimasa krisis financial global ini, ternyata do'a inilah yang mestinya sangat relevan untuk kita baca rame-rame setiap hari oleh seluruh elemen bangsa ini – sampai kita bener-bener menjiwai.

Lebih dari itu setelah kita menjiwai, ini juga harus mewarnai segala tindak tanduk kita dalam menjalankan kehidupan kita sendiri maupun – yang jadi pemimpin – yang menjalankan negara ini.

Kita tahu pangkal dari segala krisis ini adalah gaya hidup ngutang, yang dilakukan individu secara rame-rame maupun yang dilakukan oleh pemerintah. Kita telah keliru mengambil contoh!.

Ekonomi bangsa ini, gaya hidup bangsa ini mencontoh ekonomi barat khususnya Amerika yang sebenarnya sama sekali tidak bisa kita contoh.

Dalam hal gaya hidup ngutang yang dilakukan oleh pemerintah misalnya; Pemerintahan Amerika pernah mengajukan ijin ke Konggres untuk menaikkan batas atas hutang negaranya. Dengan batas atas yang baru ini hutang Amerika akan mencapai US$ 9.8 trillion. Hal ini berarti setiap wara negara AS dari yang tua sampai yang baru lahir langsung punya hutang sekitar US$ 33,000 atau sekitar Rp 396,000,000,- !.

Kita 'beruntung' jadi WNI; negara kita konon 'hanya' punya hutang Rp 1,320 trilyun. Atau kalau dibagi rata kepada seluruh warga negara yang tua maupun yang baru lahir ; masing-masing kita kebagian sekitar Rp 5,280,000 atau US$ 440. (Untuk rekan-rekan wartawan jangan quote angka ini ya, saya nggak terlalu yakin karena sulitnya cari data yang pasti di Indonesia).

Yang mengerikan sebenarnya bukan ukuran dari hutang tersebut, melainkan trend kenaikannya. Karena AS sebagai gurunya juga terus menerus manambah hutang – nilai hutang mereka 'baru' mencapai US$ 8.0 trilyun tiga tahun lalu; demikian pula Indonesia, pada saat yang sama tiga tahun lalu hutang kita 'baru' Rp 1,282 trilyun.

Inilah musibah itu; lilitan hutang diatas hutang yang membuat seluruh dunia kalang kabut didera krisis finansial yang seperti sumur tanpa dasar - belum kelihatan ujungnya sampai saat ini.

Dalam dunia finansial; ada dua jenis hutang yaitu yang disebut Self-Liquidating Debt saya sebut saja SLD dan yang satunya tentu sebaliknya yaitu Non-Self-Liquidating-Debt atau N-SLD.

SLD adalah hutang yang produktif yang bisa membayar dirinya sendiri. Contoh kita berhutang 100 untuk kegiatan produksi barang atau jasa yang hasilnya bisa kita jual 130. Dari penjualan ini, 10 kita pakai untuk biaya, 20 kita bagi 50%-nya ke pemberi hutang. Kita bisa berproduksi dan pemberi hutang juga mendapatkan hasil dari dananya. Hutang semacam ini banyak-banyak tidak masalah karena akan mendorong produktifitas.

Sebaliknya N-SLD adalah hutang yang tidak bisa membayar dirinya sendiri. Contoh pegawai dengan penghasilan Rp 10 juta/bulan mengambil kredit Kijang baru dengan cicilan Rp 5 juta/bulan. Maka setiap bulan dia akan kesulitan mencicilnya karena penghasilannya nggak cukup; untuk menutupi ketidak cukupannya dia berbelanja bulanan dengan credit card. Maka menumpuklah hutang tersebut dari waktu ke waktu semakin besar. InilahGhalabati Al-Dain itu …yang kita diajarkan untuk berlindung terhadapnya.

Negara juga demikian; mereka berhutang bukan hanya untuk kegiatan produktif tetapi lebih banyak untuk kegiatan konsumtif. Di Amerika kegiatan konsumtif yang sangat besar adalah untuk membiayai perang Irak dan aksi-aksi yang tidak membawa manfaat bagi penduduk mereka sendiri seperti kegiatan mereka di Afganistan dslb.

Di negeri seperti Indonesia, hutang-hutang kita tersebut dipakai untuk nambal APBN, untuk 'hidup sehari-hari'- nya negeri ini dan membayar mewahnya fasilitas pejabat pengelola negeri ini.

Jadi negeri-negeri seperti Amerika, Indonesia dan seluruh negara di dunia saat ini – sama dengan rakyatnya – hidup rutinnya ditambal dari kartu kredit. Ketika beban kartu kredit terus membengkak – maka bangkrutlah negera-negara tersebut.

Untuk sementara kebangkrutan ini tidak nampak karena berbeda dengan individu, negara bisa mencetak uang walaupun semakin banyak uang dicetak dan beredar di negara ini maka makin turunlah daya beli uang tersebut karena inflasi, beban ini akan dipikul oleh seluruh rakyat negeri ini yang menggunakan mata uang tersebut. Anak cucu kitalah nantinya yang harus membayari kartu-kartu kredit yang dipakai negara-negara ini sampai sekian generasi yang akan datang.

Mari sekarang kita rajin-rajinlah lafadzkan do'a pelepas hutang ini…

Allahumma innii a'udzubika minal hammi wal khazan, wa a'udzubika minal 'adzji wal kasal, wa a'udzubika minal jubni wal bukhl, wa a'udzubika min ghalabati al-daini wa khohri al rijaal.

"Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain."

Wa Allahu A'lam

http://eksportir-indonesia.com

Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas:

Indahnya Mulai Usaha dengan Bootstrapping

Dalam dunia entrepreneur, bootstrapping adalah istilah yang digunakan bila anda memulai usaha sendiri tanpa dukungan pendanaan dari pihak lain diluar diri atau organisasi anda. Menggunakan kekuatan sendiri pada umumnya jauh lebih realistik untuk pemula karena andalah yang tahu seluk beluk usaha anda dan tahu seluruh faktor-faktor resikonya, dengan bootstrapping anda juga tidak harus menargetkan hasil yang tinggi, yang biasa dituntut investor bila anda menggunakan dana pihak lain untuk memulainya.

Ilustrasinya begini, bila misalnya anda memulai usaha yang membutuhkan modal awal Rp.100 juta, dan memberikan keuntungan bersih Rp.20 juta, maka dengan 20% hasil per tahun ini sudah sangat baik untuk usaha pemula. Tetapi bila modal yang Rp.100 juta tersebut dari pihak lain dengan rasio bagi hasil 50/50 misalnya, maka investor hanya mendapatkan Rp.10 juta setahun dan demikian pula dengan anda.

Hasil yang 10% setahun kemungkinan besar tidak akan membuat investor senang invest di usaha anda mengingat faktor resikonya, demikian pula dengan anda sendiri. Artinya dengan tingkat hasil yang sama, suatu usaha yang layak didanai sendiri belum tentu layak bila didanai orang lain.

Mungkin anda berpikir lha iya. Kalau punya modal sendiri tentu lebih menyenangkan memulainya dengan modal sendiri, namun kalau tidal memiliki modal sendiri, bukankah pilihannya harus menggunakan modal orang lain? Jawabannya tidak harus!

Untuk contoh usaha yang memerlukan modal Rp.100 juta tersebut di atas misalnya, bila anda ingin memulainya tetapi tidak memiliki modal yang Rp.100 juta, harusnya terpaksa melibatkan orang lain?
Berikut adalah opsi-opsi yang bisa anda tempuh untuk bisa mencapai hasil yang sama atau mendekatinya, meskipun tanpa modal yang cukup dan tidak perlu melibatkan pendanaan modal dari pihak lain:
  1. Berjualanlah dahulu sebelum produksi. Sebelum mampu memproduksi produk anda sendiri, anda bisa berjualan produk orang lain yang sama atau sejenis dengan produk yang anda rencanakan. Manfaatnya, anda akan mulai dapat menguasai pasar tanpa memerlukan modal yang besar untuk memproduksi.
  2. Memproduksi dengan fasilitas produksi orang lain. Banyak sekali produk-produk yang bisa diproduksi orang lain yang sudah berpengalaman dan memiliki fasilitas produksi yang memadai. Manfaatnya, anda sudah dapat memiliki produksi sendiri tanpa harus memiliki pabriknya.
  3. Berjualan dengan tunai. Pemula sering under estimate tentang betapa sulitnya menagih hutang/pembayaran, jauh lebih sulit dari menjual barang itu sendiri. Maka penting untuk hanya menjual terhadap pembeli yang mampu dan mau membayar tunai, manfaatnya jelas; modal yang terbatas akan berputar cepat.
  4. Membiayai usaha dengan pesanan di muka. Bila produk barang atau jasa yang anda jual benar-benar unggul, sangat bisa jadi customer anda bersedia membayar di depan. Sebelum barang atau jasa anda dideliver. Manfaatnya jelas, anda tidak perlu memerlukan modal untuk memproduksi barang atau jasa karena customer andalah yang memodalinya.
  5. Dan, berbagai cara lain yang bisa dilakukan untuk mampu menghasilkan transaksi bisnis, tanpa harus memiliki modal yang besar untuk memulainya.
Meskipun menyenangkan, memulai usaha secara bootstrapping sering dianggap kurang menarik bagi entrepreuner yang berambisi untuk cepat besar. Jadi melibatkan dana investor di luar diri anda atau organisasi anda juga tidak perlu dibuat tabu.

Hanya saja bila investor tersebut anda libatkan setelah berhasil melampaui death valley (telah break event point) anda, insyaAllah akan jauh lebih menarik bagi kedua belah pihak. Bagi investor mereka dapat melihat bisnis anda yang sudah lebih nyata, bukan hanya rencana, dan bagi anda sendiri anda akan lebih percaya diri dan memiliki bargaining position yang lebih baik dalam berhubungan dengan pihak di luar diri atau organisasi anda.

Manfaat lain dari boatstrapping adalah kebebasan mengembangkan ide-ide dan berkreasi sepenuhnya ada pada diri anda, tanpa beban orang lain yang mungkin mensyaratkan hasil tertentu dari usaha tertentu. Jadi selamat ber-boatstrapping..!!!.

Wa Allahu A'lam




Tulisan Terkait:

Info Dinar Emas: